Rabu, 27 Juli 2011

KUTIPAN #3


Wajah telaga tak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapa mukanya
Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar
Menghadap awan yang menunggu sabar dini hari datang
Untuk keduanya bersentuhan

Wajah telaga tak pernah menyangkal
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati
Menanti awan yang berubah tak pasti hingga pagi datang
Dan keduanya berpulang pada kejujuran

Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta
Menagis saat batin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah
Menggurat saat digores waktu

Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dan teguh dengan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang

lalu engkau luruh menjadi embun yang mengecupi halus wajahku
Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh sentuhanmu
Bersua tanpa samaran apa-apa
Saat semua cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat

(Prosa pendek karya Dewi "dee" Lestari berjudul WAJAH TELAGA,yang terdapat dalam bukunya MADRE)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar