Kamis, 27 Februari 2014

Kutipan #5

berikut ini ada sedikit kisah yang saya kutip dari web www.fimadani.com
semoga bermanfaat..

Dalam kajiannya di Al Qashim, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, seorang ulama besar negeri Arab yang terkenal, pernah didatangi seorang pemuda bernama Khalid yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa.
Setelahnya dari majelis muhadharah tersebut, beliau menghampiri Syaikh ‘Utsaimin yang hendak pulang ke rumah. Syaikh ‘Utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. Di tengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, “Syaikh, apakah Anda mempunyai anak perempuan?”
Ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, Syaikh ‘Utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya,  “Ada apa akh?”
Pemuda itu menjawab, “Kalau ada, saya berniat meminangnya, bolehkah saya meminangnya?”
Lalu apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin? Apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? Kamu sudah hafal hadits berapa? Sebelumnya kamu lulusan apa? Gaji kamu berapa? Tabungan kamu berapa? Bahkan Syaikh ‘Utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaanpun kepada pemuda ini, Syaikh ‘Utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, Insya Allah akan aku telepon…”
Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu. Ia bertanya dalam hati, “Apakah Syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”
Namun, pemuda ini teringat perkataan Syaikh yang menyuruhnya menunggu. Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telepon yang dialamatkan ke asrama. Namun kebetulan pemuda itu sedang kuliah.
Akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh Syaikh ‘Utsaimin. Dalam hati dia bertanya, “Kenapa ya Syaikh ‘Utsaimin mencariku?”
Ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak melupakan tentang permintaannya.
Ketika beliau melepon Syaikh ‘Utsaimin, beliau bertanya, “Ada apa Syaikh?”
“Aku ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”
“Pembicaraan yang mana, Syaikh?”
“Pembicaraan ketika kamu menyusul saya di jalan. Akhi, silahkan kamu lanjutkan prosesnya..”
Pemuda itupun terkejut, ternyata Syaikh ‘Utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan Syaikh ‘Utsaimin dengan terbata-bata, “Syaikh, perkenankan saya mengabari orang tua saya terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”
“Silahkan akhi, saya tunggu kedatangan kalian…”
Ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak Syaikh ‘Utsaimin.
Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin selama satu bulan tersebut? Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…
Syaikh ‘Utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana di mata teman-temannya, di mata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya. Itu beliau lakukan sendiri!  Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga. Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau.
Pemuda ini adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih yang saat ini menjadi salah satu ulama yang dikenal di negeri Arab.

Senin, 24 Februari 2014

Yang kek Bemana itu dibilang gaul kah???

"bro..ayo pi gaul deh..nongkrong di tujuh sebelas ato lingkaran K bagus ini??.."

"deh apa ko bikin tinggal di rumah, nda gaulmu..mending pergiki jalan, pi nonton kah...ayo pi meki saja makan di eMPe..bemana kah??.."

"nda gaulnya ini anak, biar twitternya nda ada..facebook saja jarang na buka, apa ko bikin kah??...."

bagi kalian yang  hidup di jaman sekarang, utamanya para anak muda pasti pernah mendengar kalimat-kalimat diatas atau mungkin pernah membacanya (minimal baru-baru tadi pertama kalinya kalian baca...). atau bisa jadi kalian termasuk salah satu dari yang pernah mengucapkan kalimat semacam itu, entah kepada siapa, kapan, atau apalah...

biasanya kalimat-kalimat tersebut dilontarkan oleh orang yang merasa dirinya "gaul" kepada orang-orang yang dirasa "nda gaul" alias katro alias kuper. saya sebenarnya merasa bingung dengan orang-orang yang sering mengklaim diri mereka gaul atau punya pergaulan, soalnya nda ada standar yang baku atau aturan yang menentukan bahwa mereka itu memang termasuk anak gaul. entah mereka kemudian mengambil patokan yang datangnya dari mana untuk mengatakan diri mereka gaul, mungkin dari nenek moyangnya, dari kuburan tua yang digali, ato nemu di bawah pohon, entahlah mereka itu dapat standar gaul dari mana.

kalo mau di telusuri, makna dari kata gaul atau bergaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (anggap saja saya bukan guru..) itu artinya hidup berteman, bersahabat, atau kehidupan bermasyarakat...Nah tuh kan, kalo berdasarkan pemaknaan secara resmi saja, mereka-mereka yang mengklaim diri mereka gaul ternyata malah bersikap dan bersifat bertolakbelakang dengan definisi gaul itu sendiri. mereka yang katanya gaul, malah terkesan hidup tidak bermasyarakat. mereka malah memisahkan diri dari masyarakat, membuat batasan sendiri antara orang yang gaul dan tidak gaul, mengkotak-kotakkan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang mereka pilah berdasarkan kriteria yang mereka bangun sendiri.

sepanjang saya bisa mengingat, sebenarnya ukuran untuk orang-orang agar kemudian bisa dikatakan gaul itu sebenarnya semakin berevolusi dari tahun ke tahun. anggap saja digimon, mirip-mirpji begitu evolusinya...tentang evolusi standar anak gaul, dulu itu sudah bisa disebut anak gaul kalo sudah berambut gondrong, pake jaket kulit dan kemana-mana naik motor gede (ini jamannya Ranegade kalo nda salah, ala-ala om Lorenzo Lamas gitu lah..). nah itu standar cowok, kalo standar cewek tuh harus pake baju warna warni, dengan gaya rambut berponi mirip artis. kemudian ada juga anak-anak gaul yang mesti pake tindik, bertato dan kemana-mana selalu merokok. kalo perlu sambil minum-minum pas lagi nongkrong di pinggir jalan..

dan standar itu mulai bergeser ketika teknologi dan informasi yang berkembang dan semakin mengglobal. dimana anak-anak muda di negara kita mulai mengenal yang namanya hempong alias HP, yang kalo jalan kemana-mana harus nenteng hape, meskipun pada jaman itu masih sebesar batako dan layarnya pun masih mirip layar kalkulator aci' di depan sekolahan dulu...

standar itu kemudian bergeser ke era internet dan social media, dimana pada masa itu punya tidaknya friendster menjadi  ukuran seorang anak gaul. dan terakhir memasuki jaman sekarang yakni era gadget dan smartphone, yang dilengkapi pula dengan jenis social media yang makin menjamur. kalo sekarang, anak gaul itu diliat dari canggih tidaknya gadget yang dia punya, dilihat pula dari seri smartphone yang dia bawa, dan tentu saja diliat dari sebanyak apa akun sosial media yang dia punyai. minimal harus punya facebook dan twitter lah. kalo mau naik grade, paling tidak harus ada akun plurk, tumblr, dan yang paling mutakhir harus punya WA, Line, Instagram, Path, Autan, Baygon, Roncar dan lain sebagainya. bahkan seandainya microsoft word ato excell punya fasilitas buat chat dan coment foto, pasti mereka-mereka yang katanya gaul nda mau ketinggalan punya akun ini. dan yang parahnya lagi, mereka yang katanya gaul seakan berlomba-lomba mengupgrade gadget dan smartphone mereka, selalu mau jadi yang paling apdet infonya di social media dan selalu mau punya akun socmed terbaru..

kemudian ditambah lagi, arus informasi di televisi makin menjadikan standar tentang anak gaul bertambah dan bertambah. semisal sinetron yang menyajikan tanyangan tentang gaya bahasa untuk anak-anak gaul serta tempat nongkrong anak gaul yang harus di mall, atau di cafe atau dimanalah, yang mana mereka hanya duduk nongkrong nda jelas sambil caccarita dan tertawa cekikikan nda jelas. ditambah lagi dengan infotainment dan berbagai pemberitaan tentang artis, yang menjadikan banyak anak-anak yang katanya gaul itu mau mengikuti semua hal yang berkaitan dengan para artis tersebut, biar tambah gaul bede'..

dan diantara itu semua, satu hal yang menurut saya paling absurd tentang standard anak gaul adalah penggunaan behel. dulu kala, orang yang memakai behel itu terkesan pintar dan anak rumahan, ato bisa tonji dibilangi kampungan. dan itupun mereka memakai behel lebih karena alasan kesehatan, bukan seperti sekarang ini. banyak orang yang memakai behel lebih karena ingin dianggap gaul, untuk sekedar gaya-gayaan semata. dan karena kepentingan bagaya, bahkan sampe ada behel yang berwarna-warni, yang semua itu malah merubah image orang yang memakai behel itu lebih ke arah orang yang alay atau bagaya..

sekarang malah ada istilah cabe-cabean, istilah paling baru untuk anak gaul jaman sekarang bede'...dan malah mereka yang disebut cabe-cabean itu merasa bangga dengan sebutan itu, padahal kalo diliat dari kriteria cabe-cabean itu kesannya malah bikin malu. ya kalo masih ada yang belum paham sama apa yang dibilang cabe-cabean, gugling sendirimi deh...panjang sekali bela kalo mau ku jelaskan lagi disini,hahaha...

saya sendiri sebenarnya bingung, dan merasa kalo mereka-mereka yang saya sebutkan cirinya diatas lebih tepat disebut SALAH GAUL dibanding ANAK GAUL..
kalo ada yang tersinggung sih yang terserah, saya mah cuman nulis berdasarkan pendapat saya tanpa ada maksud menyerang seseorang secara pribadi. tapi baguslah kalo mereka tersingung, berarti mereka sadar dengan apa yang mereka telah lakukan selama ini dan mau berpikir kembali untuk memperbaiki pemahaman mereka yang ada sebelumnya..

kalo mau tau yang kek bemana anak gaul itu menurutku, yang tunggumi pade sekuelnya ini tulisan. panjang dudui kalo masuk semua disini bela, ini lagi na capekma mengetik. ya syukur-syukur kalo ada tojeng yang tunggui lanjutannya ini tulisan, sa doakanko tambah gaul di jalan yang benar.hahaha

thanks,
au revoir

Rabu, 24 Agustus 2011

Tak Ada Kata Terlambat



Di satu waktu,terkadang kita menyadari akan kekurangan pada diri kita.
membuat kita merasa minder,rendah diri,lemah,atau apalah.
Hingga kita merasa sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan.
Dan membiarkan semuanya dengan perasaan yang sudah terlanjur jatuh.
Tapi tahukah kalian....
Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kekurangan pada diri kita.
Meskipun kita harus memulai semuanya dari awal,dari dasar,tingkat yang terbawah.
Sebab bisa jadi
Allah sengaja memberikan waktu selama itu untuk menyadari semua kekurangan kita.
Agar kita dapat memperbaiki diri seutuhnya.

Selasa, 23 Agustus 2011

Kutipan #4

kali ini mungkin yang akan saya kutip adalah tulisan yang ditemukan dari sebuah grup di FB,akan sedikit panjang,tapi semoga tidak bosan membacanya.....
semoga semakin membuat kita lebih semangat dalam berkarya dan menuntut ilmu....

**BAHTERA PENA PARA ULAMA**

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du :

Umat Islam mencapai kejayaannya, manakala para generasinya bekerja keras, tanpa kenal lelah untuk menggapai cita-citanya. Hal ini terbukti pada zaman keemasan Islam di mana para ulama telah menorehkan berbagai karya agung yang mereka toreh dengan keringat, air mata dan darah mereka. Karya-karya besar mereka sebagiannya sudah sampai kepada kita, sehingga kita bisa ikut merasakan manfaatnya yang begitu besar khususnya di dalam memahami ajaran agama kita.

Sebagai generasi yang datang terakhir, hendaknya kita mengambil pelajaran dari karya-karya tersebut, bagaimana mereka menorehnya, bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan yang besar tersebut, padahal kemampuan mereka sebagai manusia bisa dikatakan sama dengan kemampuan kita. Tetapi mereka bisa membuktikannya, sedang kita belum bisa membuktikannya. Apa yang membedakan antara mereka dengan kita ? Bukankah mereka adalah manusia yang juga makan dan minum sebagaimana kita makan dan minum ? Bahkan pada masa mereka sarana kehidupan sangat sederhana dan terbatas, sedang sarana kehidupan kita saat ini sangat banyak, beragam dan serba canggih ?

Dalam tulisan berikut ini, akan kita temukan bahwa mereka mampu berkarya, karena mereka mempunyai kemauan yang kuat dan cita-cita yang tinggi. Mereka benar-benar mengejar cita-cita tersebut dengan keringat, air mata dan darah. Mereka tinggalkan segala bentuk kesenangan yang membuaikan dan meninakbobokan, mereka tiggalkan segala bentuk permainan dan senda gurau yang melupakan, mereka tinggalkan segala bentuk kegiatan yang tidak mendukung cita-cita mereka. Mereka kerahkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka, mereka bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin. Mereka sangat menghargai waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam untuk meraih cita-cita tersebut.

Tiada kata berhenti di dalam hidup mereka, tiada kata istirahat di dalam kegiatan mereka. Mereka terus bekerja, bergerak dan berkarya sampai ajal menyemput mereka. Salah seorang dari mereka, yaitu Imam Ahmad ketika ditanya oleh kawan-kawannya ; “ Wahai Imam…kenapa anda terus menerus belajar ? kenapa tidak istirahat sejenak ? “ . Beliau menjawab : “ wahai teman, istirahatnya nanti ketika kita di syurga “

Tak ayal karya-karya mereka telah memenuhi bumi ini, bagaikan udara yang memenuhi seluruh ruangan. Ibnu Aqil salah satu dari mereka yang memiliki karya tulis yang beraneka ragam dan yang paling spektakuler adalah kitab “ Al-Funun “, sebuah ensiklopedia yang memuat beragam ilmu yang sangat berharga, terdapat di dalamnya berbagai macam nasehat, tafsir, fiqih, ushul fiqih, aqidah, bahasa Arab, sya’ir, sejarah, bahkan juga hikayat. Kitab “ Al-funun “ ini terdiri dari 800 jilid. Kitab ini hanya salah satu karya beliau saja. Beliau juga mempunyai karya-karya lain yang sangat banyak. . Berkata Imam Ad- Dzahabi : ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku ” Al Funun ” .

Lain lagi dengan Ibnu Jauzi,seorang ulama yang menulis berbagai bidang ilmu dan buku-bukunya yang sangat banyak menghiasi perpustakaan Islam. Dalam kitab Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar, Ibnul Warid mengatakan : “ Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.” Diceritakan juga bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa. Setelah diadakan kalkulasi judul-judul tulisannya, ternyata karya Ibnul Jauzi mencapai 519 buku. Al-Muwafiq mengatakan bahwa Ibnul Jauzi senantiasa menulis dalam sehari setara empat buku tulis.

Seorang ulama mutakhirin Imam Muhammad bin Ali, atau yang lebih terkenal dengan Asy-Syaukani, pengarang kitab “ Nailul Authar “ adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul fiqh. Beliau dilahirkan pada tahun 1173 H di daerah Syaukan bagian dari wilayah Yaman, dan wafat tahun 1250 H. Beliau mewariskan 114 karya tulis.

Imam Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi yang baru wafat sekitar 100 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1304 H. Dalam umurnya yang ke 39 tahun, tulisan beliau telah mencapai 110 kitab.

Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi, yang wafat tahun 1362 H dalam usia 81 tahun. Beliau telah menghasilkan 1000 buah karya.

Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar dan banyaknya karya tulis mereka. Bisakah kita sebagai generasi penerus mengikuti jejak mereka ?

Menulis Apa Yang Ada Di Benak

Para ulama menulis apa saja yang mereka dapatkan, dan menulis apa saja yang mereka miliki. Mereka tidak mau ilmu yang pernah mereka dapatkan berlalu begitu saja. Bahkan apa yang terlintas di dalam benak mereka, segera mereka tulis jangan sampai hilang, karena di dalamnya mengandung ide-ide yang cemerlang, sayang kalau dibuang begitu saja, karena kadang-kadang ide-ide tersebut tidak datang lagi. Lihat umpamanya

Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali.

Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”

Isma’il bin Ayyasy salah seorang ulama besar, ketika sedang sholat, beliau sempat menghentikan shalatnya, sekedar untuk menulis hadits. Beliau bercerita : “ Saat itu aku sedang shalat, maka aku pun membaca beberapa ayat. Lalu aku teringat sebuah hadits dalam salah satu bab yang aku keluarkan. Maka aku pun menghentikan shalat, lalu aku segera menulisnya, dan kemudian aku kembali shalat.”

Suatu ketika Syaikh Alauddien masuk ke kamar mandi yang berada di pintu Az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung kamar mandi tempat melepas pakaian pakaian. Beliau minta diambilkan tinta, pena dan kertas. Lalu beliau langsung menyusun tulisan dalam soal denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan menyempurnakan mandinya.”

Luar biasa bukan ? Bisakah kita mengikuti jejak mereka ? Saya teringat dengan kata-kata pepatah orang-orang dahulu :

إذا كانت النفوس كبارا تعبت في مرادها الأجسام

“ Jika jiwa itu mempunyai cita-cita tinggi Maka badan ini akan capai mengikuti kemauannya. ”

Kapan Mereka Menulis ?

Ketika kita mendapatkan karya para ulama yang begitu banyak dan menakjubkan, kadang-kadang timbul rasa penasaran di dalam benak kita : “ Kapan dan bagaimana mereka menulis “ ? Padahal kalau dilihat dari umur dan kesibukan mereka mengajar, sepertinya tidak mungkin mereka berkarya sebanyak itu, bahkan sebagian ulama jika dibandingkan banyak karya-karyanya dengan umur yang mereka miliki rasanya tidak sebanding, bahkan bisa dikatakan mustahil.

Tetapi setelah ditelusuri kehidupan mereka secara lebih mendetail, ternyata mereka telah menggunakan waktu mereka sebaik mungkin, mereka tidak rela sedetik waktu yang mereka miliki dibuang sia-sia tanpa ada kegiatan menulis.

Marilah kita tengok sebagian dari keahlian mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk berkarya dan menulis .

Di Dalam Perjalanan.

Perjalanan banyak menyita waktu di dalam kehidupan manusia. Bahkan kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta, yang terkenal dengan kemacetannya. Membuat banyak orang stress, karena mereka harus berangkat kerja pagi- pagi benar, kemudian malam baru bisa pulang, mereka sering terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuat umur mereka habis di jalan. Kapan mereka akan menulis dan berkarya ?

Para ulama tidak mau kenal menyerah di dalam menempuh cita-cita mereka, di dalam perjalananpun mereka menyempatkan diri untuk berkarya dengan menggoreskan pena-pena mereka, mengukir ilmu, mewariskan banyak manfaat untuk kehidupan manusia.

Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in yang wafat tahun 95 H pernah berkata : “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah di malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku, dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.”

Sementara itu Ibnu Qayim al Jauziyah, konon di dalam perjalanan hajinya bisa menyelesaikan buku yang spektakuler tentang kehidupan dan petunjuk seorang nabi Muhammad saw yang diberinya judul “ Zaadul Ma’aad “ Buku ini terdiri dari enam jilid besar.

Suatu ketika seorang ulama Timur Tengah kontemporer yang hingga kini masih hidup. Dr. Yusuf Qardhawi datang ke Indonesia, dan ditanya tentang tulisan-tulisannya yang begitu banyak, sampai-sampai yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mencapai 40 buku lebih. Beliau ditanya kapan menulis buku-bukui tersebut, beliau menjawab : “ Di dalam perjalanan dari rumah ke kantor, atau dalam perjalan menuju ke tempat-tempat lain. “.

Pada 1950, Buya Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

1. Anda juga bisa seperti mereka, ketika anda punya sopir pribadi, maka dalam perjalanan anda bisa mengetik dengan laptop atau alat tulis yang lebih kecil. Begitu juga ketika anda dalam perjalanan menggunakan angkutan umum seperti bis dan kereta, apalagi pesawat, jangan biarkan anda melamun atau bengong, tapi gunakanlah untuk membaca atau menulis. Kebanyakan orang sekarang mengisi kekosongan mereka dalam perjalanan dengan bermain hp dan membuka internet, kenapa anda tidak gunakan untuk berkarya dan menulis ? Di tengah-tengah kemacetan kenapa anda tidak memnafaatkan untuk membaca, menghafal, merenung, berfikir, serta mencari ide-ide cemerlang ?

Mengurangi Waktu Makan

Manusia hidup perlu makan. Tapi kadang proses untuk dapat makanan banyak menyita waktu seseroang. Lihatlah ibu-ibu yang harus belanja sayur-sayuran ke pasar, beberapa jam mereka di pasar, kemudian setelah pulang mereka harus mengolahnya kemudian memasaknya. Berapa jam mereka membutuhkan waktu itu semua ? Bukankah untuk menyediakan makanan menyita banyak waktu dari hidup kita ? Kapan ibu-ibu itu punya waktu untuk menulis jika pekerjaan seharian terus-menerus seperti itu ? Adakah cara yang lebih praktis dan efesien untuk mendapatkan makanan, sehingga sisa waktunya bisa dipakai untuk menulis dan berkarya ?

Para ulama mempunyai trik-trik sendiri untuk menghindari makan yang banyak menghabiskan waktu. Sebagai contoh kita dapatkan Ubaid bin Ya’is teryata untuk efesien waktu, beliau tidak pernah makan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau selalu disuapi saudaranya perempuan selama 30 tahun, karena sibuk menulis.

Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah yang sangat terkenal tersebut juga sering disuapi budaknya, karena tidak ada waktu untuk makan. Beliau sedang sibuk menyusun buku.

Diriwayatkan juga bahwa Abu Al Wafa’ bin Uqail Al Hambali adalah seorang ulama dari madzhab Hambali yang sangat ketat di dalam menjaga waktunya. Jika mulut , lidah , dan matanya capai karena banyaknya yang dibaca, dia terdiam merenung dan merancang apa saja yang perlu ditulis, maka ketika ia duduk atau berbaring, kecuali beliau telah menghasilkan banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Bahkan beliau memilih-milih makanan yang paling praktis dan cepat dimakan, untuk kemudian sisa waktunya digunakan untuk membaca dan menulis.

1. Diriwayatkan bahwa beliau memilih roti yang agak basah dari pada roti yang kering. Tentunya waktu untuk mengunyah roti yang basah jauh lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang kering. Jeda waktu antara keduanya bisa beliau manfaatkan untuk membaca dan menulis. Subhanallah, tidak kaget kalau karya-karya beliau sampai 800 jilid lebih.

Di Pengasingan dan Penjara

Imam Syamsudin As-Syarkhasi telah mampu menulis kitab “ Al Mabsuth “, sebuah buku spektakuler yang dijadikan rujukan ulama Hanafiyah. Buku ini terdiri dari 30 jilid besar, kebetulan saya mempunyai buku tersebut. Beliau menulis buku tersebut di dalam penjara dengan cara mendiktekan kepada murid-muridnya. Beliau dimasukkan penjara karena memberikan nasehat kepada salah satu penguasa pada waktu itu.

Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara, karena menyampaikan kebenaran apa adanya, banyak orang yang hasad kepadanya. Beliau difitnah sehingga dijebloskan penjara oleh penguasa. Selama di dalam penjara, beliau manfaatkan untuk menulis. Tatkala beliau dijebloskan kembali ke dalam penjara yang berada di dalam benteng selama dua puluh bulan lebih, beliau dilarang untuk menulis dan menelaah kitab. Orang orang yang hasad dengan beliau tak membiarkan ada buku tulis maupun tinta di sisi beliau, karena tulisan-tulisannya bisa mempengaruhi banyak orang. Beliau dalam keadaan seperti itu beberapa bulan lamanya, sehingga beliau mulai berkonsentrasi untuk beribadah dengan membaca al-Qur’an, sholat tahajjud, serta berdzikir hingga beliau wafat.

Konon Buya Hamka, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.. Nama beliau dikenal luas berkat karya-karyanya. Tafsir yang beliau beri nama Tafsir Al Azhar tersebut sekarang menjadi rujukan masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran Fi Dzilalil Qur’an di dalam penjara.

Di Waktu Sepertiga Akhir Malam

Malam hari, khususnya sepertiga akhir malam merupakan waktu yang penuh barakah. Oleh karenanya, kita diperintahkan bangun dari tidur untuk melaksanakan sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah swt. Para ulama menyebutkan jika seseorang bangun malam diberi dua pilihan antara sholat atau belajar.

Imam Al-Mufassir Abu Tsana’ Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi Al-Baghdadi, seorang mufti sekaligus penutup para ahli tafsir, lahir pada tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Di setiap akhir malam beliau memanfaatkan untuk menulis lembaran demi lembaran tentang tafsir. Sehingga, pada keesokan pagi harinya, tulisan itu beliau serahkan kepada para juru tulis yang ditugaskan dirumah beliau. Mereka tidak mampu menyelesaikan tulisan itu secara baik, kecuali dalam rentang waktu sepuluh jam. Beliau terus saja menulis hingga saat sakit beliau yang terakhir.

Antara Sholat Lima Waktu

1. Allah swt telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan sholat dalam lima waktu yang terpisah-pisah dalam satu hari. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu tersebut insya Allah akan diberkati amalannya. Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi telah berhasil memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis. Setelah shalat shubuh , beliau mengajarkan al-Qur’an atau terkadang mengajarkan hadits. Lalu beliau berwudhu dan shalat sebanyak 300 rakaat dangan membaca al-fatihah dan mu’awwadzataini, hingga mendekati waktu dzuhur. Kemudian, beliau tidur ringan, lalu bangun untuk shalat dzuhur, dan kemudian sibuk menyimak atau menyalin tulisan hingga datang waktu maghrib.”

Menggunakan Sarana Yang Terjangkau

Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya Al-Intiqa fi Fadha’ilits Tsalasatil A’immatil fuqaha’ dengan sanadnya yang sampai kepada Imam Syafi’I, bahwa Imam Syafi’I menuturkan, “Aku tidak mempunyai harta. Aku menuntut ilmu dalam usia muda yaitu sebelum 13 tahun . Aku pergi ke kantor meminta kertas bekas untuk menulis.” Maksudnya, kertas bekas yang sebelahnya telah dipakai dan sebelahnya belum terpakai. Kemiskinan tidaklah menghalangi beliau, untuk terus menulis ilmu. Sehingga beliau termasuk Imam Madzhab yang paling banyak karyanya dibanding dengan ketiga imam madzhab yang lain.

Menulis tidak harus menunggu punya computer atau laptop, menulislah di buku-buku tulis, atau di kertas-kertas bekas, sebagaimana para ulama menulis. Menulis dengan bulpen, dengan pencil, dengan spidol, dengan apa saja, yang penting anda menulis.

Menulis Sambil Makan

Al-Hafidz Dzahabi berkata di dalam Tsadzkiratul Hufadz, tentang biografi Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah Bin Imam Al-Hafidz Abu Daud As-Sijistani, ia berkata, “Aku memasuki kota kuffah dan hanya mempunyai uang satu dirham. Dengannya aku membeli 30 mud kacang-kacangan . Aku makan darinya dan menulis hadits dari Al-Asyaj –yakni Abdullah bin Sa’id Al-Kindi, ahli hadits kuffah-. Kacang-kacangan tersebut belum habis, hingga aku mampu menulis darinya 30.000 hadits , baik yang maqthu’ maupun yang mursal.”

Al-Barqani menuturkan, “ Aku memasuki kota Isfirayin, sedangkan aku berbekal uang tiga dinar dan satu dirham. Tiga dinar tersebut hilang, dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Aku memberikannya kepada tukang roti. Setiap harinya aku menerima darinya dua potong roti. Aku mengambil satu jilid buku dari Bisyr bin Ahmad, lalu aku menyalinnya dan menyelesaikannya di petang hari. Aku telah menyalin 30 jilid kitab, sedangkan jatahku dari tukang roti telah habis. Maka, aku pun melanjutkan melanjutkan perjalanan.”

Menulis Cepat

Abu Isma’il Al-Anshari berkata : ” Seorang ahli hadits harus memiliki sifat cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, cepat dalam membaca.” Perlu ditambah satu lagi, yaitu cepat dalam makan.

Kenapa harus cepat berjalan ? Karena dengan cepat berjalan, waktu akan lebih efesien dan lebih cepat sampai kepada tujuan. Bisa diartikan lebih cepat kepada syekh atau guru, sehingga ilmu yang akan di dapat lebi banyak. Untuk zaman sekarang, bisa diterapkan dengan menggunakan pesawat, walaupun mahal sedikit, tapi bisa efesien waktu, apalagi di dalam perjalanan bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Kenapa harus cepat menulis ? Karena seseorang yang bisa menulis cepat, berarti dia bisa menulis lebih banyak, sehingga menjadi produktif. Oleh karenanya dianjurkan bagi siapa saja yang ingin menulis, hendaknya dia menulis yang ada di dalam benaknya dan yang ia kuasai. Jika ingin menambahkan dari beberapa referensi, hendaknya mencari referensi yang terjangkau dan mudah dipahami, sehingga tidak menghambat proses penulisan.

Kenapa harus membaca cepat ? Karena dengan membaca cepat, maka maklumat yang ia dapatkan jauh lebih banyak, sehingga membantunya untuk mempercepat tulisannya. Karena tulisan seseorang tergantung kepada maklumat yang dimilikinya.

Kenapa cepat dalam makan ? Kalau seseorang bisa makan cepat, waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama membaca dan menulis. Di bawah ini dijelaskan bagaimana para ulama yang produktif, ternyata mereka menulis dengan cepat.

Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyid berkata, “jika Ala’ bin Nafis ingin mengarang sebuah kitab, maka beliau pun meletakkan pena-pena yang telah dirautnya, lalu beliau berputar menghadapkan wajahnya kearah dinding. Kemudian beliau menulis dari berbagai ide yang terbetik dalam benaknya. Beliau menulis ibarat air yang mengalir. Bila penanya tumpul dan tidak jelas tulisannya, maka beliau mencampakkannya dan menggunakan yang lainnya, agar waktunya tidak terbuang untuk meraut pena yang tumpul .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam usia 57 tahun adalah beliau menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis. Beliau mampu mengarang dalam sehari sebanding dengan jumlah lembar tulisan seorang juru tulis pada zaman itu yang ditulis selama sepekan atau bahkan lebih banyak lagi. Biasanya saat menyampaikan fatwa, beliau mampu menulis sejumlah masalah dangan tulisan yang sangat cepat, disertai penjelasan dan penjabaran hal-hal yang sulit.

Dalam sehari semalam beliau mampu menulis masalah tafsir atau fiqih, atau masalah-masalah ushul fiqih, ushul kalam, dan tauhid, atau memberikan bantahan terhadap kalangan filosof dan ahli takwil, sekitar empat buku tulis atau lebih. Maka tak berlebihan jika karya beliau hingga sekarang mencapai 500 jilid. Dalam sejumlah masalah, beliau memiliki karya tersendiri. Beliau seorang yang pandai menulis secepat kilat dan laksana hujan deras yang tak henti-hentinya.

Beliau mampu menulis tentang satu masalah hingga tak ada batasnya. Beliau mampu menulis dua atau tiga lembar dalam sekali duduk. Syaikh Ibnu Qoyyim telah menulis sebuah risalah yang berisi nama-nama karya Ibnu Taimiyah, hingga mencapai 22 halaman.

Adalah Al- Khatib Al Baghdadi pernah berkata : ” Saya mendengar dari Al-Simsi yang menceritakan bahwa Ibnu Jarir At Tobari selama 40 tahun, menulis setiap harinya 40 lembar . Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir yang bernama Al Farghani mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur 86 tahun. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau, dan jika dibandingkan dengan umur beliau, ternyata didapatkan bahwa beliau menulia setiap harinya 14 lembar. Dan ini tidak akan mampu dilakukan oleh seseorang kecuali atas inayah Allah swt. Dan jika dihitung-hitung lembaran karya tulisnya maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000 lembar. Wallahu A’lam

Cipayung, Jakarta Timur, 26 Jumadil Ula 1432 H /30 April 2011 M
(Penulis: DR. Ahmad Zain An Najah, MA)

Senin, 22 Agustus 2011

Bandung: dingin nan hangat.....

Setelah meninggalkan ibukota, maka yang menjadi tujuan pertama saya adalah Bandung. sebelumnya menyempatkan diri singgah di Bogor karena satu urusan,maka sayapun berangkat ke kota kembang menggunakan kereta api via stasiun gambir. Dan tiga jam kemudian,sampailah saya di salah satu kota yang cukup terkenal di negeri ini....

Sebenarnya ini adalah kunjungan saya yang kedua ke kota ini,dan dari kedua kunjungan ini ada dua kata yang dapat menggambarkan tentang kota ini yaitu DINGIN dan HANGAT. Yah,saya katakan dingin karena memang suhu di kota ini yang begitu dingin,terutama ketika mentari mulai menghilang di langit barat. Memang sih terasa begitu sejuk dikala siang,akan tetapi ketika malam maka bersiap-siaplah untuk menutup badan rapat-rapat. dan saya katakan hangat,karena sikap orang-orang di kota ii yang begitu hangat. Tutur kata,keramahan,serta sikap supel yang ditunjukkan warga kota ini,membuat saya merasa begitu nyaman dengan semua kehangatan itu. apalagi ditambah dengan wajah-wajah para gadis bandung yang begitu 'menghangatkan hati',membuat saya semakin ingin berlama-lama di kota ini.hehehe....

Selama berada di kota ini,memang tak banyak tempat yang saya kunjungi. hanya sempat mengunjungi beberapa tempat seperti dago,ciwalk,jembatan pasoepati,dan kompleks ITB,bukan berarti kota ini tak meninggalkan kesan yang dalam. Apalagi setelah berkeliling di kampus ITB dan mengikuti beberapa kegiatan mahasiswa di tempat ini,menyadarkan saya akan banyak hal....

Memang hanya sesaat,hanya sekitar sepekan dari kedua kunjungan itu. tapi paling tidak ini jadi pengalaman berharga,dan kembali membuat saya berjanji...
i'll be back as soon as possible...

Jumat, 19 Agustus 2011

#9 See U MotherCity..

Tak terasa setelah hampir satu setengah bulan berada di ibukota,akhirnya tiba waktunya bagi saya untuk meninggalkan kota ini. Cukup gembira sebenarnya,apalagi mengingat seluruh pekerjaan yang telah rampung di kota ini,dan juga berarti kepulangan saya ke kampung halaman yang semakin dekat. Meskipun begitu,saya sebenarnya masih ingin tinggal di kota ini. Dimana pekan terakhir yang sudah tidak terlalu sibuk,saya habiskan dengan berbagai hal yang cukup berkesan...

Dimulai dengan mengunjungi Mesjid Istiqlal,berbuka puasa dan Shalat di dalamnya. Agak lucu sebenarnya,karena perasaan yang pertama muncul ketika memasuki mesjid ini adalah perasaan takut tersesat,saking luasnya mesjid ini.haha...
Selain itu,saya juga menyempatkan diri menonton proses Recording Kick Andy! di studio Metro Tv. yang satu ini sungguh-sungguh berkesan dan menginspirasi,dan thanks juga buat buku gratisnya....
Ada juga ketika saya mengunjungi daerah Kwitang,dan kalo yang ini nih gara-gara abis nonton filmnya AADC.hahaha....
dan diantara semuanya,salah satu yang jadi favorit saya adalah ketika mengunjungi toko buku terbesar se Indonesia. boleh dibilang beberapa hari terakhir saya habiskan di tempat ini untuk membaca buku,mulai dari siang ampe menjelang magrib. kebetulan tempatnya juga tidak terlalu jauh,makanya saya jadi rajin ke tempat ini...
Mengikuti beberapa kegiatan Ramadhan di UI,serta menginap tiap malam di lokasi proyek juga menjadi beberapa kegiatan yang cukup berkesan.
dan itu semua membuat saya masih ingin lebih lama,apalagi masih ada beberapa tempat yang belum sempat saya kunjungi....

Dan akhirnya,tepat tanggal 17 Agustus 2011 sayapun meninggalkan kota ini....
sungguh sebuah pengalaman yang tak ternilai,dan di dalam hati saya kemudian berjanji akan kembali lagi ke kota ini...
See you again mother city...
I'll be back as soon as possible...

Selasa, 02 Agustus 2011

#8 Stadion Impian


Senayan???...
Buat sebagian warga Indonesia,mungkin mereka sudah sering mendengar kata ini. Merupakan salah satu kompleks olahraga terbesar yang ada di Asia,tempat beradanya stadion terbesar di Asia Tenggara,yakni Stadion Senayan,ato yang kini bernama Stadion Gelora Bung Karno. Dan buat seluruh pesepakbola di negeri ini,boleh di bilang inilah salah satu stadion impian mereka,dimana mereka bermimpi untuk bermain di dalamnya,sambil mengenakan kostum berlambang Garuda di dada. Saya juga dulu termasuk salah satu yang memelihara mimpi tersebut,bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi tampaknya perlahan mimpi itu harus perlahan saya simpan dalam-dalam,hmmmm.....

Sejak memastikan bakal berangkat ke Jakarta,maka salah satu tempat yang sudah terbayang di pikiran saya adalah kompleks Stadion ini. Sedikit nostalgia sebenarnya,sebab ketika saya ke Jakarta sebelumnya,saya sempat bermain Sepak Bola di kompleks stadion ini. Meskipun hanya di lapangan ABC,lapangan bagian luar,bukan di stadion utama,tapi itu cukup berkesan. Ketika itu saya hanya bisa memandang kemegahan stadio itu dari luar,sambil memikirkan kapan saya bisa masuk ke dalamnya,bahkan hanya untuk sekedar masuk saja,tanpa melakukan apa-apa...

Dan tak disangka,ternyata Indonesia bakal melangsungkan pertandingan di stadion ini untuk penyisihan Pra Piala Dunia,melawan Turkmenistan. Kesempatan ini tak ku sia-siakan. Saya yang pada awalnya hanya berencana sekedar jalan-jalan saja ke stadion itu,malah bisa nonton langsung pertandingan Timnas. Maka sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai ancang-ancang,mencari berbagai informasi,mulai dari tiket,sampai peta stadion untuk mencari tempat duduk terbaik. dan 2 hari sebelum pertandingan,voucher tiket sudah di tangan. Berarti tiket masuk saya sudah aman,maka selanjutnya saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Termasuk mencari Jersey Merah dengan Lambang Garuda di dada,hehe...

hari itupun tiba,28 Juli 2011 bakal menjadi hari bersejarah buat saya. Meninggalkan kost pukul 10.00,saya berharap bisa mengambil tiket tanpa kesulitan apapun. dan teryata harapan saya terwujud,loket tempat saya mengambil tiket ternyata masih longgar,padahal loket yang lain sudah tampak antrian yang cukup panjang. Setelah mendapatkan tiket,sembari menunggu pintu di buka pukul 17.00 maka berkeliling di sekitar stadion menjadi pilihan. Saya berjalan sambil mengamati sekeliling,melihat para suporter yang mulai berdatangan,berkumpul di sekitaran stadion,ada yang bercerita,manabuh berbagai alat musik,bernyanyi,dan saya sendiri sesekali mengambil gambar,mengabadikan momen yang ada. Dan sekitar pukul 12.00,sekeliling stadion sudah mulai sesak. Dan sayapun mengungsi ke Masjid di sekitar stadion,mencoba merebahkan badan setelah shalat. dan sekotaran pukul 16.00,sayapun bergegas berangkat menuju gerbang yang tak lama lagi akan di buka.


Mengantri beberapa menit,akhirnya saya berhasi masuk ke stadion. dan kalian tahu,saya sebenarnya merasa sedikit deg-degan juga. Akhirnya impian saya terwujud untuk masuk ke stadion ini,meskipun hanya sebagai penonton,tapi itu sudah cukup membuat saya bergejolak. Ketika saya keluar dari lorong tangga,maka sesaat saya berdiri terpana menyaksikan hamparan lapangan luas dengan rumput terbaik yang pernah saya lihat langsung,dikelilingi oleh barisan kursi yang tersusun rapi dengan berbagai warna. Oh iya,karena saya di tribun bagian atas,maka saya cukup bebas mengarahkan pandangan ke berbagai sisi stadion,dan saya kemudian mengambil tempat di barisan terdepan yang agak sejajar dengan tengah lapangan. Dan sambil menunggu pertandingan dimulai,maka sayapun mulai sibuk mengambil gambar,hehehe....

Tak terasa,stadion mulai sesak oleh penonton,dan koor IN-DO-NE-SIA sedikit demi sedikit membahana diantara ribuan penonton,membuat dada ini mulai bergetar. Terlebih ketika para pemain mulai muncul di lapangan,maka teriakan penonton semakin menggila. Tak berapa lama,lagu kebangsaan kedua tim mulai dinyanyikan untuk membangkitkan Nasionalisme masing-masing. Dan tiba saatnya Indonesia Raya dinyanyikan,maka seluruh stadion ikut menyanyi,membuat saya merinding,sungguh sebuah suasana yang menakjubkan,menyaksikan puluhan ribu rakyat Indonesia menyanyikan lagu terbaik milik negara ini bersama-sama,di tempat yang sama,dengan harapan yang sama. Membuat saya semakin bangga menjadi Orang Indonesia....

Pertandingan pun dimulai,dengan permainan yang di dominasi oleh tim Indonesia,penonton semakin antusias berteriak memberi dukungan,dan akhirnya saat itu tiba...
GOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLL.................
semua penonton berteriak,larut dalam suka cita,membuat stadion bergetar oleh semangat dan luapan kegembiraan....
pertandingan pun kembali dilanjutkan dan terjadi lagi gol untuk tim Indonesia,menghasilkan kejadian yang sama,sukacita yang sama,seakan de' Javu hanya dalam beberapa menit. Pertandingan ini sendiri berakhir 4-3 untuk kemenangan tuan rumah,kemenangan yang memberi secercah harapan,yang membuat rakyat negeri ini sedikit tersenyum,dan para suporterpun bisa pulang dengan kepala tegak,diiringi tawa dan membawa cerita masing-masing...

Sungguh satu hari yang begitu indah,mengesankan,dan membuat saya berjanji dalam hati akan kembali lagi ke tempat ini.Semoga...
Jayalah Indonesia....
Terbang Tinggilah Sang Garuda...
Buat Negeri Ini Bangga...


suasana di luar stadion sebelum pertandingan


Berfoto di depan gerbang utama


tampak para suporter yang sedang beristirahat setelah shalat dhuhur


suporter yang sedang menunggu di salah satu sudut stadion


nah...liat kan berapa panjang antriannya...


salah satu sudut stadion yang lain....


udah di dalam stadion nih....


detik-detik menjelang pertandingan


ready for the battle....

lihat tuh betapa penuhnya stadion ini...