Kamis, 27 Februari 2014

Kutipan #5

berikut ini ada sedikit kisah yang saya kutip dari web www.fimadani.com
semoga bermanfaat..

Dalam kajiannya di Al Qashim, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, seorang ulama besar negeri Arab yang terkenal, pernah didatangi seorang pemuda bernama Khalid yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa.
Setelahnya dari majelis muhadharah tersebut, beliau menghampiri Syaikh ‘Utsaimin yang hendak pulang ke rumah. Syaikh ‘Utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. Di tengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, “Syaikh, apakah Anda mempunyai anak perempuan?”
Ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, Syaikh ‘Utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya,  “Ada apa akh?”
Pemuda itu menjawab, “Kalau ada, saya berniat meminangnya, bolehkah saya meminangnya?”
Lalu apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin? Apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? Kamu sudah hafal hadits berapa? Sebelumnya kamu lulusan apa? Gaji kamu berapa? Tabungan kamu berapa? Bahkan Syaikh ‘Utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaanpun kepada pemuda ini, Syaikh ‘Utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, Insya Allah akan aku telepon…”
Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu. Ia bertanya dalam hati, “Apakah Syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”
Namun, pemuda ini teringat perkataan Syaikh yang menyuruhnya menunggu. Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telepon yang dialamatkan ke asrama. Namun kebetulan pemuda itu sedang kuliah.
Akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh Syaikh ‘Utsaimin. Dalam hati dia bertanya, “Kenapa ya Syaikh ‘Utsaimin mencariku?”
Ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak melupakan tentang permintaannya.
Ketika beliau melepon Syaikh ‘Utsaimin, beliau bertanya, “Ada apa Syaikh?”
“Aku ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”
“Pembicaraan yang mana, Syaikh?”
“Pembicaraan ketika kamu menyusul saya di jalan. Akhi, silahkan kamu lanjutkan prosesnya..”
Pemuda itupun terkejut, ternyata Syaikh ‘Utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan Syaikh ‘Utsaimin dengan terbata-bata, “Syaikh, perkenankan saya mengabari orang tua saya terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”
“Silahkan akhi, saya tunggu kedatangan kalian…”
Ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak Syaikh ‘Utsaimin.
Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin selama satu bulan tersebut? Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…
Syaikh ‘Utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana di mata teman-temannya, di mata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya. Itu beliau lakukan sendiri!  Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga. Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau.
Pemuda ini adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih yang saat ini menjadi salah satu ulama yang dikenal di negeri Arab.

Senin, 24 Februari 2014

Yang kek Bemana itu dibilang gaul kah???

"bro..ayo pi gaul deh..nongkrong di tujuh sebelas ato lingkaran K bagus ini??.."

"deh apa ko bikin tinggal di rumah, nda gaulmu..mending pergiki jalan, pi nonton kah...ayo pi meki saja makan di eMPe..bemana kah??.."

"nda gaulnya ini anak, biar twitternya nda ada..facebook saja jarang na buka, apa ko bikin kah??...."

bagi kalian yang  hidup di jaman sekarang, utamanya para anak muda pasti pernah mendengar kalimat-kalimat diatas atau mungkin pernah membacanya (minimal baru-baru tadi pertama kalinya kalian baca...). atau bisa jadi kalian termasuk salah satu dari yang pernah mengucapkan kalimat semacam itu, entah kepada siapa, kapan, atau apalah...

biasanya kalimat-kalimat tersebut dilontarkan oleh orang yang merasa dirinya "gaul" kepada orang-orang yang dirasa "nda gaul" alias katro alias kuper. saya sebenarnya merasa bingung dengan orang-orang yang sering mengklaim diri mereka gaul atau punya pergaulan, soalnya nda ada standar yang baku atau aturan yang menentukan bahwa mereka itu memang termasuk anak gaul. entah mereka kemudian mengambil patokan yang datangnya dari mana untuk mengatakan diri mereka gaul, mungkin dari nenek moyangnya, dari kuburan tua yang digali, ato nemu di bawah pohon, entahlah mereka itu dapat standar gaul dari mana.

kalo mau di telusuri, makna dari kata gaul atau bergaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (anggap saja saya bukan guru..) itu artinya hidup berteman, bersahabat, atau kehidupan bermasyarakat...Nah tuh kan, kalo berdasarkan pemaknaan secara resmi saja, mereka-mereka yang mengklaim diri mereka gaul ternyata malah bersikap dan bersifat bertolakbelakang dengan definisi gaul itu sendiri. mereka yang katanya gaul, malah terkesan hidup tidak bermasyarakat. mereka malah memisahkan diri dari masyarakat, membuat batasan sendiri antara orang yang gaul dan tidak gaul, mengkotak-kotakkan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang mereka pilah berdasarkan kriteria yang mereka bangun sendiri.

sepanjang saya bisa mengingat, sebenarnya ukuran untuk orang-orang agar kemudian bisa dikatakan gaul itu sebenarnya semakin berevolusi dari tahun ke tahun. anggap saja digimon, mirip-mirpji begitu evolusinya...tentang evolusi standar anak gaul, dulu itu sudah bisa disebut anak gaul kalo sudah berambut gondrong, pake jaket kulit dan kemana-mana naik motor gede (ini jamannya Ranegade kalo nda salah, ala-ala om Lorenzo Lamas gitu lah..). nah itu standar cowok, kalo standar cewek tuh harus pake baju warna warni, dengan gaya rambut berponi mirip artis. kemudian ada juga anak-anak gaul yang mesti pake tindik, bertato dan kemana-mana selalu merokok. kalo perlu sambil minum-minum pas lagi nongkrong di pinggir jalan..

dan standar itu mulai bergeser ketika teknologi dan informasi yang berkembang dan semakin mengglobal. dimana anak-anak muda di negara kita mulai mengenal yang namanya hempong alias HP, yang kalo jalan kemana-mana harus nenteng hape, meskipun pada jaman itu masih sebesar batako dan layarnya pun masih mirip layar kalkulator aci' di depan sekolahan dulu...

standar itu kemudian bergeser ke era internet dan social media, dimana pada masa itu punya tidaknya friendster menjadi  ukuran seorang anak gaul. dan terakhir memasuki jaman sekarang yakni era gadget dan smartphone, yang dilengkapi pula dengan jenis social media yang makin menjamur. kalo sekarang, anak gaul itu diliat dari canggih tidaknya gadget yang dia punya, dilihat pula dari seri smartphone yang dia bawa, dan tentu saja diliat dari sebanyak apa akun sosial media yang dia punyai. minimal harus punya facebook dan twitter lah. kalo mau naik grade, paling tidak harus ada akun plurk, tumblr, dan yang paling mutakhir harus punya WA, Line, Instagram, Path, Autan, Baygon, Roncar dan lain sebagainya. bahkan seandainya microsoft word ato excell punya fasilitas buat chat dan coment foto, pasti mereka-mereka yang katanya gaul nda mau ketinggalan punya akun ini. dan yang parahnya lagi, mereka yang katanya gaul seakan berlomba-lomba mengupgrade gadget dan smartphone mereka, selalu mau jadi yang paling apdet infonya di social media dan selalu mau punya akun socmed terbaru..

kemudian ditambah lagi, arus informasi di televisi makin menjadikan standar tentang anak gaul bertambah dan bertambah. semisal sinetron yang menyajikan tanyangan tentang gaya bahasa untuk anak-anak gaul serta tempat nongkrong anak gaul yang harus di mall, atau di cafe atau dimanalah, yang mana mereka hanya duduk nongkrong nda jelas sambil caccarita dan tertawa cekikikan nda jelas. ditambah lagi dengan infotainment dan berbagai pemberitaan tentang artis, yang menjadikan banyak anak-anak yang katanya gaul itu mau mengikuti semua hal yang berkaitan dengan para artis tersebut, biar tambah gaul bede'..

dan diantara itu semua, satu hal yang menurut saya paling absurd tentang standard anak gaul adalah penggunaan behel. dulu kala, orang yang memakai behel itu terkesan pintar dan anak rumahan, ato bisa tonji dibilangi kampungan. dan itupun mereka memakai behel lebih karena alasan kesehatan, bukan seperti sekarang ini. banyak orang yang memakai behel lebih karena ingin dianggap gaul, untuk sekedar gaya-gayaan semata. dan karena kepentingan bagaya, bahkan sampe ada behel yang berwarna-warni, yang semua itu malah merubah image orang yang memakai behel itu lebih ke arah orang yang alay atau bagaya..

sekarang malah ada istilah cabe-cabean, istilah paling baru untuk anak gaul jaman sekarang bede'...dan malah mereka yang disebut cabe-cabean itu merasa bangga dengan sebutan itu, padahal kalo diliat dari kriteria cabe-cabean itu kesannya malah bikin malu. ya kalo masih ada yang belum paham sama apa yang dibilang cabe-cabean, gugling sendirimi deh...panjang sekali bela kalo mau ku jelaskan lagi disini,hahaha...

saya sendiri sebenarnya bingung, dan merasa kalo mereka-mereka yang saya sebutkan cirinya diatas lebih tepat disebut SALAH GAUL dibanding ANAK GAUL..
kalo ada yang tersinggung sih yang terserah, saya mah cuman nulis berdasarkan pendapat saya tanpa ada maksud menyerang seseorang secara pribadi. tapi baguslah kalo mereka tersingung, berarti mereka sadar dengan apa yang mereka telah lakukan selama ini dan mau berpikir kembali untuk memperbaiki pemahaman mereka yang ada sebelumnya..

kalo mau tau yang kek bemana anak gaul itu menurutku, yang tunggumi pade sekuelnya ini tulisan. panjang dudui kalo masuk semua disini bela, ini lagi na capekma mengetik. ya syukur-syukur kalo ada tojeng yang tunggui lanjutannya ini tulisan, sa doakanko tambah gaul di jalan yang benar.hahaha

thanks,
au revoir