Minggu, 31 Juli 2011

#6 Sedikit Nostalgia

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke Jakarta,sebelumnya saya sudah dua kali ke kota ini. Agak berbeda dengan kali ini,boleh di bilang yang memberangkatkan saya menuju kota ini adalah Sepak Bola. Yah,itulah dia yang menjadi tujuan saya menuju kota ini pada dua keberangkatan sebelumnya,untuk mengikuti sebuah turnamen Sepak Bola tingkat nasional. Dan kebetulan kali ini,turnamen yang pernah saya ikuti kembali diadakan. Karena di adakan di hari libur,maka jadilah saya berangkat ke tempat turnamen itu di adakan,sekalian sedikit bernostalgia dengan masa lalu..



turnamen ini namanya Danone Nations Cup,tiap tahunnya diadakan di stadion Gelora Sumantri Brojonegoro,Kuningan. Dan untuk diketahui,pemenang turnamen ini akan mewakili Indonesia bertanding di luar negeri. Pada jaman saya,yang menang itu bakal berangkat ke Paris,sedangkan sudah dua tahun belakangan ini putaran final tingkat dunia di pindahkan ke kota Madrid. Entah kenapa di pindahkan,tapi bagi saya sama saja. Sebab mereka mendapat kesempatan berkunjung ke negara yang memang menjadi kiblat sepak bola dunia,bertemu dengan beberapa pemain terkenal dunia,seperti Zinedine Zidane. Selain itu,mereka juga mendapat kesempatan bertemu dengan anak-anak dari berbagai negara,sebab turnamen ini sendiri akan diikuti sekitar 40-an negara. tentu saja apa yang bakal dirasakan disana sedikit banyak akan membuat orang-orang iri,termasuk saya..

Okelah,kita kembali ke nostalgia saya dulu ya.hehehe...
Pada awalnya saya sendiri tak menyangka bakal mendapat kesempatan ke ibukota pada waktu itu,sebab tim saya hanya menjadi juara 3 tingkat regional. Tapi Alhamdulillah,saya mendapat kesempatan bergabung dengan Tim Pemenang dan ikut bermain di putaran nasional. tentu saja saya senang,sebab ini pasti akan jadi pengalaman yang menyenangkan. Dan tepat tanggal 17 April 2003,saya akirnya menginjakkan kaki di kota Jakarta. Rombongan kami kemudian menginap di Padepokan Pencak Silat TMII,tepat bersebelahan dengan mesjid At-Tien. Dan dua hari kemudian,tibalah saya di Gelora Sumantri Brojonegoro,sebuah stadion yang cukup sederhana,tapi memiliki Rumput yang sangat bagus,bahkan lebih bagus dari tempat kami biasa berlatih di Makassar. Pertandingan berjalan lumayan seru,meskipun pada akhirnya gagal menjadi pemenang. tapi tak apalah,mungkin bukan rejeki kami semua ke luar negeri. Meskipun begitu,bagi saya stadion ini tetap memiliki kenangan tersendiri. Biarlah di tulisan saya yang lain akan saya ceritakan selengkapnya tentang turnamen ini dan kegiatan saya di Jakarta pada waktu itu...



Itu cerita saya sekitar 8 tahun yang lalu,dan akhirnya hari ini saya kembali menginjakkan kaki di tempat yang sama, Stadion Gelora Sumantri Brojonegoro. Ternyata stadion ini tidak terlalu banyak berubah,bahkan menurut saya tak ada bedanya dengan pertama kali saya kesini. Arena panjat dinding masih tetap berdiri kokoh di sekitaran halaman stadion,begitu pula gerbang masuk yang tetap terkesan sederhana dengan tulisan berwarna perak,dengan dinding stadion yang masih tetap berwarna biru. Dan begitu pula ketika menyisiri tangga naik ke atas tribun,kemudian duduk di tempat yang sama dengan 8 tahun sebelumnya. Memandang sekeliling,suasana sekitar stadion masih tetap sama. Berlatarkan kompleks apartemen yang berdiri kokoh di sekitaran stadion,tribun penonton masih tampak terawat dengan baik,begitu pula pagar pembatasnya. Bahkan suasana tribun di sekitar saya tidak terlalu jauh berbeda dengan 8 tahun lalu,masih tetap riuh dengan suara ibu-ibu yang sibuk berteriak mendukung anak masing-masing,bapak-bapak yang mengambil gambar dengan kamera masing-masing,pedagang asongan yang berlalu-lalang menjajakan makan dan minum,serta barisan suporter masing-masing tim yang semakin menambah riuh suasana. Di sudut lain stadion,tampak pula tim peserta yang sedang berisitirahat menunggu giliran bertanding,ada yang sekedar duduk-duduk sambil bercengkrama dengan orang di sekitarnya,sampai ada pula yang tidur sambil bertelanjang dada,persis dengan apa yang dilakukan pada jaman saya dulu,membuat saya sedikit merekahkan senyum.

Kalopun ada yang sedikit berbeda,mungkin kondisi lapangan yang tidak sebaik saya dulu,karena sudah mulai tampak gundul di beberapa titik. Selain itu,suasana kompetisi juga lebih meriah,mungkin karena sudah bertahun-tahun di adakan jadi tentu saja ada peningkatan. Dan tentu saja yang paling berbeda,karena saat ini saya datang hanya sebagai penonton,yang berada di tribun dan memandang ke arah lapangan,tanpa ada yang memeperhatikan keberadaan saya di tempat ini. Bukan lagi sebagai peserta,yang berada di lapangan dan memandang ke arah tribun,sambil berharap ada yang memperhatikan aksi-aksi saya di lapangan.hehehe...

Hari ini sayapun menikmati pertandingan,apalagi ada wakil dari Makassar,maka otomatis saya ikut mendukung mereka,bergabung di barisan suporter. Meskipun kemudian banyak yang meirik ke saya dengan mimik bingung,mungkin berpikir "ini siapa ya,kok ikut disini??.ada yang kenal tidak??". Meskipun begitu,saya tetap semangat memberi dukungan,berteriak sekali-sekali,serta berekspresi apapun. Dan akhirnya Wakil Makassar ini menjadi pemenang,mewakili Indonesia di tingkat dunia. Saya sih sebenarnya tidak kaget,karena wakil Makassar memang sudah sering menang,bahkan ini sudah yang ke-4 kalo tidak salah. Bangga juga dengan mereka,sekaligus cemburu. Bangga karena mereka mengharumkan nama daerah,sekaligus cemburu karena seharusnya waktu itu saya juga bisa seperti ini. dan sayapun hanya bisa menghela napas mengingat momen 8 tahun silam...

Setelah prosesi penerimaan hadiah,sayapun bergegas meninggalkan tempat ini,dengan diliputi berbagai macam pemikiran yang mulai berputar di kepala. Sebuah Nostalgia yang cukup membekas....

Oh iya,ini beberapa foto-foto dari tenpat itu. Termasuk foto anak-anak yang bakal berangkat menuju Madrid...















(JAKARTA,18/07/2011)

Jumat, 29 Juli 2011

#5 Bogor,Kota Yang Menyenangkan



Dan setelah menempuh perjalanan sekira 1 jam,akhirnya saya,bertiga dengan zul dan inal tiba juga di kota Bogor,kota yang terkenal dengan talas dan asinannya,serta satu-satunya kota di dunia yang tetap diguyur hujan meskipun sedang musim kemarau. dan ketika pertama kali sampai di kota ini,maka yang pertama kali dirasakan adalah kesejukan kota ini. Memang sih kami sampai terlalu pagi,tapi meskipun begitu terasa sekali bahwa kota ini memiliki hawa yang jauh lebih bersahabat dibandingkan kota Jakarta.

Keluar dari stasiun,tampak berbagai macam dagangan yang digelar. Mulai dari pakaian,sepatu,buku,mainan dan tentu saja kuliner. Tampak pula para tukang ojek yang berbaris seadanya menunggu penumpang,dan tak ketinggalan juga angkot yang berjubel memenuhi jalanan. Kelihatan sumpek memang,tapi wajarlah karena berada di sekitaran terminal. Dan seperti di Jakarta,angkot disini juga berdasarkan nomer. Kebetulan Zul pernah tinggal disini,maka jadilah dia penunjuk jalan kami. dan menggunakan angkot berwarna hijau yang tak tahu nomer berapa,kamipun beranjak menuju lapangan Alun-Alun kota untuk mencari sarapan.

Setibanya disana,Alun-Alun itu ternyata sudah ramai oleh warga yang tampak berlatih untuk mengikuti semacam karnaval. Lapangan itu begitu riuh oleh ibu-ibu yang tampak menyemangati anaknya,ada pula yang sibuk memberi arahan ini itu. Dan setelah berkeliling sebentar,kami lalu singgah di salah satu penjual bubur ayam. Lumayan enak juga sarapan ini,dan setelah itu kami lalu beranjak menuju Istana Bogor. Karena jarak dari tempat-tempat yang kami tuju tidak terlalu berjauhan,maka berjalan kaki jadi pilihan kami. Meskipun sedikit menimbulkan protes dari si Inal,perjalanan tetap saja dilanjutkan.



Setelah sedikit berfoto di depan Istana Bogor,kami pun berjalan menyusuri sisi luar istana,sambil sesekali memberi makan Rusa yang ada di sekitaran halaman. Berhenti sejenak untuk menikmati Es Cincau,kami kemudian melanjutkan berjalan kaki menuju Kebun Raya Bogor yang terletak bersebelahan dengan Istana Bogor. Dan seperti biasa,sebelum masuk di dalam kami semua sibuk mangambil gambar,lumayan lah buat kenang-kenangan.hehehe...



Sesampainya di dalam,ternyata masih belum terlalu ramai. Malah yang banyak berlalu lalang di sekitar kami adalah turis asing yang kelihatannya jauh lebih dulu tiba di tempat ini. Lantas saya bertanya-tanya,orang-orang Indonesianya mana???.kok malah saya yang merasa seperti turis asing di tempat ini,sedangkan turis asing itu yang seperti penduduk pribumi,sebab mereka yang kelihatan dominan di tempat ini. Tapi sudahlah,lebih baik saya menikmati tempat ini saja. Dan memang,tidak sia-sia saya menuju tempat ini jauh-jauh dari Jakarta,atau dari Makassar malah. Tempat dengan suasana yang begitu sejuk,dengan pepohonan yang begitu rimbun tertata rapi,hamparan rumput yang begitu luas,bunga-bunga yang begitu indah,serta berbagai jenis tanaman seakan menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini. Ternyata ada juga ya tempat seperti ini di Negeri ini,bahkan saya masih sedikit merasa sedang tidak berada di Indonesia,tapi berasa di luar negeri(meskipun belum pernah keluar negeri,tapi merasa saja.hehe...)

Setelah puas berkeliling,melihat-lihat,dan berfoto,saya paling terkesan dengan Rumah Anggrek yang ada di tempat ini. Saking terkesannya dengan Anggrek yang begitu berwarna warni,saya malah tertarik untuk memeliharanya,meskipun tidak sekarang. Dan untuk sedikit melepas lelah,kami lalu beristirahat di bawah pepohonan,duduk di atas rumput,serasa piknik saja.hehehe....

Dan lagi-lagi,ketika memperhatikan sekeliling,ada perilaku dari salah seorang turis asing yang membuat saya geleng-geleng kepala,terlebih lagi ketika membandingkannya dengan perilaku warga Indonesia sendiri. Tampak seorang turis asing,yang kira-kira masih belasan tahu,calingak-calinguk seakan kebingungan mencari sesuatu. Dan sepertinya ia telah menemukan apa yang dia cari,ia kemudian beranjak ke tepi jalan. Ternyata ia sedang mencari tempat sampah untuk membuang permen karet yang sedang ia kunyah,dan saya lantas tersenyum melihat tingkahnya. Dan tak lama kemudian melintaslah seorang Bapak dengan seorang anaknya,yang kelihatan sibuk membuka bungkus roti,dan lantas melemparkan begitu saja bungkusnya di rerumputan sekitarnya. Inilah yang kemudian membuat saya geleng-geleng kepala,kok kita yang punya,malah tak ada rasa kesadaran,rasa memiliki akan tempat ini. Malah orang luar yang tampak begitu peduli,menjaga tempat ini bahkan dari kotoran sekecil permen karet.

Dan karena sudah mulai beranjak siang,maka kami lalu beranjak menuju pintu keluar. Berjalan menuju stasiun sambil menikmati kesejukan kota meskipun matahari tepat berada di titik tertingginya siang ini. Dan sekitar pukul 13.00,kami lalu meninggalkan kota ini menggunakan kereta menuju Jakarta. Yah,itulah ceritaku tentang kota ini,kota yang cukup menyenangkan,dan saya yakin bakal kembali lagi ke kota ini...
SEE YOU NEXT TIME BOGOR...
oh iya,ini sedikit dokumentasinya:






(JAKARTA,17/07/2011)

Rabu, 27 Juli 2011

#4 Suatu Pagi Di Stasiun Kereta


Hari ini masih ngantuk sebenarnya,tapi karena sudah ada janjian dengan teman,maka jadilah pagi ini saya berangkat Menuju Stasiun Pasar Minggu. Menggunakan angkot S11,bersama si inal sayapun menyusuri jalanan kota Jakarta yang begitu lengang pagi ini,apalagi hari ini memang akhir pekan. Maka perjalanan kamipun lancar,tidak seperti biasanya yang selalu saja terkena macet dan penuh dengan polusi.

Sebenarnya sih nda lancar-lancar amat,karena kebetulan lewat pasar minggu,yah namanya juga pasar,pasti padat lah. Dan ternyata pasar di kota ini sama saja ya dengan di Makassar,tetap saja semrawut,kotor,dan bagaimanalah yang semestinya kalian bayangkan. Kira-kira seperti itulah,dan disana sinipun terlihat orang-orang dengan berbagai macam profesinya saling berlomba-lomba mnecari nafkah. Meskipun masoh terlalu pagi menurut saya,tapi salut juga dengan kegigihan orang-orang ini. dan tak berapa lama kemudian,sampailah kami di Stasiun Kereta tujuan.

Stasiun Kereta Pasar Minggu secara umum terlihat biasa-biasa saja,bahkan terkesan tidak begitu terawat. Bangunan yang tampak sudah terlalu tua,karat yang menggerogoti dimana-mana,ditambah lagi tembok-tembok yang mulai mengelupas catnya. Tak mempedulikan itu semua,kami bergegas membeli tiket dan menuju pinggiran rel,menunggu kerete yang akan mengangkut kami ke kota Bogor. Kali ini kami naik kereta ekonomi,kereta yang mungkin bagi sebagian orang tak menyukainya,termasuk si inal sebenarnya. Memang terkesan tidak nyaman,tapi saya justru menyenangi kereta ini,sebab saya merasa dapat mengambil banyak pelajaran dari campur baur masyarakat diatas kereta seperti ini.

Sambil menunggu kereta,saya kemudian memperhatikan sekeliling. Masih belum terlalu ramai memang,sebab saat itu belum pukul 7. Suasana stasiun yang belum terlalu ramai,malah membuat saya merasa nyaman,entahlah kenapa,hanya nyaman saja. Hawa dingin pagi hari memang sedikit mengganggu,tetapi cahaya mentari yang perlahan menerobos melewati rimbunan pohon bambu,sedikit demi sedikit mengusir dingin dan menambah kesan romantis di stasiun ini. Suasana yang begitu tenang,udara yang begitu segar,ditambah lagi lantunan lagu-lagu berirama lembut dari speaker di sekitar stasiun,membuat suasana pagi begitu nyaman,meskipun berada di stasiun kereta,tempat yang mungkin tidak lazim untuk menikmati pagi.

Tapi kemudian ada satu hal yang menarik perhatian saya,yaitu para pencari nafkah yang tampak di sudut-sudut stasiun ini. Ada si Mbok jamu yang sedang sibuk melayani pembelinya,tampak pula seorang yang bisa terbilang kakek yang menawarkan minuman hangat kepada orang yang melintas di sekitarnya. Di sudut lain,tampak seorang ibu-ibu yang menjual sarapan,entah itu kue-kue,atau nasi bungkus,ataukah roti. Sedangkan di ujung peron,tampak bergerombol orang-orang yang kelihatannya sedang menunggu kereta yang sama dengan saya. Mereka juga tampak sedang bersiap-siap mencari nafkah,dapat terlihat dari barang bawaan mereka. Ada yang membawa keranjang anyaman yang cukup besar,yang entah apa isinya. ada pula yang membawa keranjang plastik yang ditutupi kain sarung yang sudah lusuh,serta tampak pula orang-orang yang menenteng ransel yang tampak sudah tua. Mereka semua tampak larut dengan pikiran masing-masing,"mungkin mereka sedang memikirkan barapa banyak rezeki mereka hari ini" pikirku sambil memandang mereka.

Sedikit banyak saya kemudian merasa kagum dengan mereka,orang-orang yang selalu sigap menghadapi kerasnya hidup ketika sebagian manusia masih lelap dalam tidurnya,terbuai dengan mimpi indah masing-masing. Bagi mereka,mungkin lebih senang menghadapi dunia yang kadang terasa pahit daripada menikmati mimpi manis yang hanya sesaat. Garis-garis wajah mereka tampak tegar dipahat oleh waktu,dibentuk oleh ketidakpastian hidup yang mereka hadapi setiap harinya. Sayangnya kekagumanku kemudian diganggu oleh pengumuman bahwa kereta tujuan Bogor akan segera tiba. Membuat segala yang kupikirkan menjadi buyar,dan beralih ke kereta yang segera datang. Meskipun sedikit berdesakan di atas kereta,tapi tak apalah sebab saya berdesakan bersama dengan mereka,para pejuang hidup yang senantiasa membuat saya merasa kagum akan kegigihan mereka menghadapi dunia. Dan kemudian kereta segera berangkat,menuju ke tempat baru yang saya yakin akan menambah pengalaman baru....

(Stasiun Pasar Minggu,16/07/2011)

KUTIPAN #3


Wajah telaga tak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapa mukanya
Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar
Menghadap awan yang menunggu sabar dini hari datang
Untuk keduanya bersentuhan

Wajah telaga tak pernah menyangkal
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati
Menanti awan yang berubah tak pasti hingga pagi datang
Dan keduanya berpulang pada kejujuran

Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta
Menagis saat batin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah
Menggurat saat digores waktu

Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dan teguh dengan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang

lalu engkau luruh menjadi embun yang mengecupi halus wajahku
Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh sentuhanmu
Bersua tanpa samaran apa-apa
Saat semua cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat

(Prosa pendek karya Dewi "dee" Lestari berjudul WAJAH TELAGA,yang terdapat dalam bukunya MADRE)

Senin, 25 Juli 2011

KUTIPAN #2


Suatu saat,cinta itu pernah ada.
Dan aku melihatnya pergi tanpa sempat kucegah sama sekali...

Sejak itu,hari-hari terasa sulit untuk dijalani.
Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri di cermin.
Karena saat itu aki tahu,hanya aku sendiri yang terlihat disitu.
Meskipun kedengarannya tak masuk akal,sering aku berharap bisa membalikkan waktu.
Aku bahkan bersedia memberikan apa saja supaya bisa mengucapkan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati...

Suatu saat,cinta itu pergi.
Menyisakan sejuta penyesalan karena tak cukup sigap menahannya tetap berada disini...

(Dikutip dari Buku "Here,After"nya Mahir Pradana)

Kamis, 14 Juli 2011

KUTIPAN #01


Mungkin lebih baik kita berpisah sementara,sejenak saja...
Menjadi kepompong dan menyendiri...
Berdiri malam-malam,bersujud dalam-dalam...
Bertafakkur bersama iman yang menerang dalam hati...
Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari...
Melantun kebaikan di antara bunga,menebar keindahan pada dunia...

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah...
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya ke bumi...
Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka,selembut nurani,sehangat semangat,senikmat berbagi,dan sekokoh janji...

(Dikutip dari Buku "DALAM DEKAPAN UKHUWAH" Karya Salim A. Fillah)

Rabu, 13 Juli 2011

MAAF UNTUK HARI ESOK...

Dan hari ini berjalan seperti beberapa hari belakangan ini...
Tapi kali ini agak sedikit berbeda,sebab sejak bangun sampe hari ini saya merasa uring-uringan terus...
Bosan dan malas selalu datang menghampiri,begitu aneh rasanya...
Sebab beberapa hari sebelumnya bosan dan malas itu selalu menjauh,tak berani mendekat..

Aku sebenarnya tau pasti penyebabnya...
Dan itu semua disebabkan oleh hari esok...
YA,HARI ESOK..

Hari dimana aku berharap tidak berada disini,di kota ini..
Tapi di kota itu,di kota yang sama dengan dirinya. Sebab aku juga tahu, bahwa Hari Esok adalah hari yang penting baginya,sangat penting malah...
Dan aku juga merasa hari itu penting buatku...
Memang aku tak punya peran apa-apa di dalamnya,tapi aku hanya merasa bahwa itu juga penting bagiku. Hanya merasa saja,tidak lebih...

Aku hanya merasa bahwa bisa saja ini kan jadi terakhir kalinya aku merasa hari yang penting baginya ini,juga penting buatku. Sebab mungkin di tahun berikutnya,akan ada orang yang lebih berkewajiban untuk menjadikan hari itu penting bagi dirinya...

Maaf kalo aku berpikir terlalu jauh,anggap saja itu sebagai ketakutanku pribadi...
Maaf kalo kali ini aku tak bisa ada di hari yang penting buatmu ini,sekali lagi maaf...
Asal tau saja,meskipun diriku tak ada disana,tetapi sesungguhnya semua perasaanku masih tertinggal disekitarmu. Entah engkau dapat merasakannya atau tidak...
Dan dari tempat yang jauh ini,saya hanya bisa mengirimkan doa. Semoga engkau baik-baik saja dan selalu dalam penjagaan-Nya...

Senin, 11 Juli 2011

Kalian Masih Ingat Tidak??..


Hey,kalian tahu tidak ini hari apa?...
HARI SENIN..!!
Yah,mungkin sebagian dari kita akan menjawab serempak seperti itu. Memang sih itu jawaban yang paling benar,hehe..
(nah lho,klo udah tau itu kok nanya sih??..)

Memang sih bagi sebagian orang ini hari yang biasa,tapi mungkin tidak bagi sebagian yang lain. Utamanya bagi beberapa anak-anak yang mulai bersekolah hari ini...
Yup,hari pertama di tahun ajaran yang baru. Dan bagi anak-anak yang baru masuk SD,inilah pertama kalinya mereka merasakan yang namanya Sekolah. Sebab TK belum bisa digolongkan sebagai Sekolah sih,paling tidak itu menurut saya.hehe...

Hari seperti ini memang selalu menghadirkan banyak cerita,yang kadang bisa membuat orang minimal tersenyum ketika mengetahuinya. Dan begitu pula yang saya dapat hari ini,begitu banyak cerita yang menarik tentang hari yang baik ini,hari pertama merasakan yang namanya BERSEKOLAH...
Seperti cerita tentang seorang anak bernama Ipul,yang hari ini berangkat sekolah hanya mengenakan tas baru dan sepatu baru,tanpa seragam,cuman berbaju biasa. Dan sesampai di sekolah,hal inilah yang paling awal ditanyakan oleh Gurunya,tentang keberadaan seragam sekolahnya. Lalu dengan santainya Ipul menjawab...
"Bajunya kan masih baru,jadi di taruh di ßumah saja. Takut kotor..."
Hahaha,$ungguh jawaban khas anak-anak yang begitu polos...

Atau lain lagi dengan cerita tentang seorang anak bernama saripah,yang di hari pertama tak pernah sampai di sekolahnya. Dan setelah diselidiki,ternyata dia nyasar di sekolah lain. Katanya sih karena banyak teman-temannya yang bersekolah disitu,makanya dia ikut masuk saja waktu sama-sama berangkat di pagi hari...
Oh come on kids,i know you love all of you friends. But you come in to the wrong school,hahaha...

Selain cerita-cerita diatas,sebenarnya masih banyak cerita tentang hari pertama sekolah yang lainnya. Entah itu cerita tentang anak yang sepanjang hari mengomel kepada ibunya karena baju atau sepatu yang kebesaran. Tentang anak yang sepanjang hari menangis tak mau ke sekolah,katanya sih banyak orang(waduh,bukannya ramai asik tuh.hehe..). Ada pula anak yang sepanjang hari memeluk ibunya di sekolahan,bahkan ibunya harus ikut duduk di dalam kelas untuk menemani,membuat si ibu terlihat mencolok di dalam kelas. Atau tentang seorang anak yang ikut berbaris di barisan siswa senior waktu upacara bendera,padahal kan biasanya siswa baru hanya berkumpul di depan kelas bersama ibu masing-masing,menunggu pelajaran dimulai setelah upacara bendera. Waktu nih anak ditanya alasannya,katanya sih "seru aja ikut beginian,kayak patung,mana gerakannya semua orang sama.seru kan??.."
Seru bapak moyangmu,lama-lama bakalan tau kok betapa membosankannya hal ini. Nanti bakal tau rasa sendiri,hehehe...
Dan ada juga lho anak yang datang dengan muka berseri,penuh semangat,tak sabaran mau belajar. Katanya sih biar pintar..(nah,mungkin begini nih Pak Habibie waktu masuk sekolah,hehe...)

Itulah sedikit kisah tentang hari pertama bersekolah,klo kalian bagaimana?.masih ingat tidak?.memang sih udah terlalu lama,apalagi buat orang seumuran saya. Mana kita juga masih terlalu kecil untuk mengingat sesuatu,tapi sedikit banyak saya masih ingat kok masa itu. Masa ketika saya pertama kali merasakan yang namanya sekolah,pertama kali berada di ruangan yang disebut ruang kelas...

Tentu saja aku masih ingat hari itu,sebab hari pertamaku bersekolah berbeda dari anak yang lain. Yap,aku memang baru masuk dua hari setelah anak-anak yang lain. Maklum saja waktu itu baru pindahan,makanya sekolahku di urus belakangan. Dan hari itu ibu sendiri yang mengantarku ke sekolah hingga di depan kelas,berbincang sejenak dengan ibu guru,meminta maaf,basa basi sedikit,lantas bergegas kembali ke rumah. Beliau tak menungguiku seperti anak yang lain,masih sibuk katanya...

Dan akhirnya ibu guru membimbing aku masuk ke dalam kelas,memegang bahuku dari belakang. Lantas mempersilahkanku memperkenalkan diri di depan kelas,dan itu semua berlangsung cepat tanpa tanya jawab,cukup nama saja. Aku juga tak mau lama-lama,sebab aku yakin anak-anak di depanku hanya satu dua yang memperhatikan,yang lain sibuk dengan dunianya masing-masing. Oh iya,guruku namanya Ibu Nurhayati,itu kalo tidak salah ingat,hehe. Beliau berperawakan pendek gemuk,tapi bersuara lembut,meskipun ketika berbicara tergambar jelas kalau beliau itu orang yang tegas. Aku sendiri dipersilahkan duduk di baris ketiga dari pintu,di kursi paling belakang,sendirian pula. Tapi tak apa,tak ada protes dariku. Dan ini pula jadi awal kebiasaanku memilih tempat yang sama di tahun-tahun berikutnya,bahkan hingga lulus SMA.Hehehe...
Dan hari itu aku langsung membuat kejutan,membuat ibu guru bertanya-tanya,kok baru masuk hari ini tapi lebih kenal huruf dari anak yg lain. Akupun hanya senyum saja akan hal ini,ternyata kebiasaanku ikut nimbrung waktu ayah baca koran,bertanya huruf ini apa,itu apa,ada gunanya juga. Dan hari pertama pun selesai,di ikuti hari selanjutnya,hingga sampai di hari ini..

Paling tidak itulah yang bisa ku ingat tentang masa seperti hari,hari dimana aku pertama kali masuk sekolah. Lantas kalian bagaimana?. Apakah masih ada yang kalian ingat dari hari itu?. Hari yg sebenarnya cukup bersejarah dalam hidup kalian,hari dimana cita-cita kalian dimulai,hari dimana kalian menjadi anak yang lebih beruntung dibanding sebagian anak yang lain. Apakah masih ada yang kalian ingat?...

Semoga kalian tidak melupakan hari itu,hehehe..
^_^

CUKUPLAH MENJADI SEPERTI HUJAN...

Akhirnya Hujan pun berhenti,setelah mengguyur kota ini satu jam lebih. Dan bagiku itu lebih dari cukup untuk menikmati Hujan hari ini...
dan WOW...
Sinar mentari langsung menyeruak di balik awan,bagai lampu sorot yang langsung diarahkan ke Bumi ini. Menyapu keseluruhan tempat ini,membuat suasana begitu hangat dan menyenangkan. Air di dalam kolam ikan memantulkan sinar mentari,begitu pula air yang masih betah berada di atas daun yang menghijau di sekitar kolam,tampak berkilau diterpa cahaya sang mentari. Menghadirkan siluet indah yang khas,ditambah lagi udara segar yang menyergap paru-paru,semua itu sungguh menyenangkan....
dan sekali lagi,Hujan memang selalu istimewa. Bahkan setelah ia pergi...

Meskipun Hujan telah berlalu,tapi pikiranku sebenarnya masih seperti ketika Hujan masih ada sore ini. Bahkan kali ini semakin runyam,pikiranku seakan berkonspirasi dengan perasaan di dalam hati ini,seakan membangun jalan yang semakin berliku. Tak nyaman sebenarnya kalau sudah seperti ini,apalagi kemudian konspirasi tersebut mengarahkanku kepada jalan untuk mengingat hari itu...
Ya...
HARI ITU.....
46 HARI YANG LALU....
46 hari sebelum aku menulis ini...

Selalu saja seperti ini,bahkan ketika aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan hatiku,membuat pilihan yang ku anggap rasional,setelah sebelumnya masih terjebak dengan perasaan tak menenntu setelah hari itu. Tapi sayangnya,Hujan sudah terlalu sering membawaku ke keadaan seperti ini,dan mungkin itu lagi alasan mengapa Hujan begitu istimewa..
(meskipun keistimewaan kali ini adalah hal yang kurang mengenakkan,hehe...)

Tapi akhir-akhir ini aku sering belajar dari Hujan....
Belajar dari sifatnya yang begitu mengagumkan...
Belajar dari keikhlasannya membantu siapa saja dan apa saja,tanpa pernah memilih-milih...
Belajar dari ketulusannya yang ada bagi yang membutuhkan,meskipun tak selalu ada tetapi tetap dinantikan...
Belajar dari kekuatannya yang selalu amanah menjaga titah Sang Pencipta,meskipun selalu berputar dari langit ke bumi,dan kemudian kembali ke langit...
Dan itulah yang membuat penghuni bumi ini menyukainya dan menantikan kedatangannya...
dan kita juga masih bisa belajar darinya,sebab dia selalu saja menyisakan keindahan dan kesenangan di bumi ini. Meskipun itu dia tinggalkan setelah ia pergi,menyelesaikan amanah dari sang pencipta untuk saat itu....

Sungguh,ku ingin menjadi seperti Hujan...
Seperti Hujan Kepada Sang Bumi...
Hujan yang selalu ikhlas turun membasahi bumi,tanpa penah mengharap imbalan apapun...
Hujan yang selalu berusaha membawa nafas kehidupan di bumi ini,meskipun terkadang alpa beberapa lama...
Hujan yang selalu amanah berada di posisinya,tanpa pernah berharap untuk tinggal di Bumi ini seperti Tanah dan Bebatuan itu...
Dan biarlah aku menjadi Hujan,yang ketika tiba masanya untuk pergi,tetap menyisakan keindahan di bumi ini...
Sebab sebagai Hujan aku yakin,ketika datang masanya aku berhenti,maka akan ada manusia yang meneruskan kewajibanku kepada Sang Bumi. Entah siapa manusia itu,tapi Semoga di meneruskan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya...
Dan Sang Bumi tak perlu khawatir,sebab Hujan kan selalu menyapannya. Mengawasi manusia itu menjalankan kewajibannya,bahkan siap marah kepada manusia itu ketika dia lalai. Dan tak usahlah kau tanyakan kemarahan Hujan,bukankah umat-umat terdahulu telah membuktikannya...

Sulit memang untuk jadi seperti itu,tapi biarlah...
Agar tak sering terbawa ke perasaan ini lagi,biarlah aku mencoba...

Biarlah Aku menjadi Hujan...
dan Semoga Dia kan tetap menjadi Sang Bumi...
SANG BUMI YANG DICINTAI OLEH HUJAN...

cukuplah seperti itu...........

Hujan Memang Selalu Istimewa...

Karena siang ini sedang tidak ada kegiatan di luar,maka jadilah hari ini dihabiskan dgn membaca buku. Meskipun sebenarnya aku membacanya dengan perasaan setengah-setengah karena sedang dihinggapi oleh kebosanan,tapi tak apalah,daripada diam bengong tak jelas...
Dan tiba-tiba saja terdengar suara yang sudah tak asing lagi dari atas atap,suara yang terasa begitu akrab,suara yang telah lama kukenal,yang bahkan lebih dulu aku ingat daripada rangkaian huruf-huruf yang dituliskan ibu guru di papan tulis. Yess...setelah sepekan lebih di kota ini,setelah beberapa hari terakhir mendung terus-menerus menggantung di langit,ternyata hari hujan perlahan turun dari langit,dan suaranya yang menyentuh atap seng terasa menyenangkan,membuat kebosanan berangsur pergi,berganti suasana yg terasa lebih nyaman...

Yah,seperti itulah...
Hujan selalu saja menjadi saat-saat yg istimewa bagiku. Saat dimana kita melihat betapa Allah yang Maha Pemurah menurunkan rezeki kepada hamba-hambaNya di bumi secara gratis,bahkan kepada hamba-hamba yg ingkar padaNya. Saat dimana Allah yang Maha Penyayang membasahi seluruh makhluk di bumi ini dengan air yang begitu sejuk,bahkan kepada hamba-hamba yang sesunguhnya jauh lebih pantas bermandikan cahaya mentari yang panas menyengat...
Walaupun terkadang hujan dibenci oleh sebagian manusia,tapi bagiku hujan tetaplah istimewa...

Hujan memang istimewa,selalu menghadirkan perasaan tenang bagiku(meskipun kadang masih ngeluh kalo hujannya deras sekali,apalagi disertai petir dkk.hehe..),selalu mengingatkanku akan banyak hal. Dan seperti hari ini,berbagai hal kembali melintas di kepalaku. Tentang sesuatulah,inilah,itulah,atau apalah. Tapi memang kalau memikirkan semuanya di kala hujan,terasa lebih lapang...

Hujan memang istimewa,meskipun dia selalu datang bersama 'dingin',sahabat karibnya yang kubenci. Kenapa sih kalo hujan turun suasana malah jadi dingin??. Bukankah dingin itu selalu akrab dengan putus asa,kesendirian,bahkan kematian??. Tak logis memang kalo hanya mengikuti mauku,tapi biarlah kalo memang begitu adanya. Sebab bagiku kebersamaan hujan dan dingin adalah sebuah pelajaran,bahwa untuk menikmati sesuatu,kadang harus berhadapan dengan hal yang tak kita sukai...

Hujan memang istimewa,dan biarlah hari ini aku menikmati hujan yg pertama di tanah rantau ini. Bersama segelas kopi hangat,aku segera bergeser ke beranda kamar,menikmati hujan diatas kursi plastik sambil melanjutkan bacaanku. Sambil sesekali memandang sekeliling,melihat daun-daun yang basah,melihat kolam ikan yang tampak ramai oleh tetes air hujan. Dan...
Plukk...
Buku ini kututup saja,karena aku memang tak bisa konsen membaca buku. Aku lebih tertarik mengamati hujan,sambil berpikir banyak hal...
Hmmm...
Bukan banyak hal yg sebenarnya kupikirkan,tp suatu hal,sesuatu...
Atau lebih tepatnya seseorang...
Seseorang...
Yang entah kenapa sering teringat dikala hujan...
Entahlah...
Mungkin saja karena dia jauh lebih istimewa dari hujan...
Aku juga tak tahu,tp mungkin ini juga satu alasan bagi saya bahwa...

Hujan Memang Selalu Istimewa...

Sabtu, 09 Juli 2011

#3 Sudah Sepekan Ternyata...

Assalamualaikum...
Tak terasa sepekan sudah sy berada di perantauan,dan Alhamdulillah semuanya berjalan baik-baik saja..

Boleh dibilang,sepekan ini menjadi saat-saat yg begitu menarik dan penuh dengan hal yang baru. Yg pertama tentu saja pengalaman nyobain berbagai macam angkutan di kota ini,mulai dari naik busway yg lumayan nyaman,truz naik kereta ekonomi yg penuh dengan beragam aktifitas di dalamnya,dan tentu saja naik bajaj yg getarannya mencapai 6 skala richter.hehe...
Tak lupa juga,ada bus umum dgn kernet yg slalu kumur-kumur(soalx kalo teriak arahx bus,kyak org kumur2,gak jelas gitu deh..),dan yg terakhir ada ojek,yg menurut sy ojek paling anarkis se-Indonesia Raya. Pokoknya segala arah dan segala medan bakal ditembus deh,hehe...

Selain itu,sy juga nyempatin diri jalan2 ke beberapa tempat. Mulai dari Mal Blok M, Citos, PRJ, kampus UI,sampe Margo City. Dan tentu saja tidak sampai situ saja,coz daftar tunggu tempat yg mau di kunjungi pastinya masih panjang.hahay...


Oh iya lupa, kan tujuan utamanya buat kerja praktek jd tentu saja sy jg sering ke lokasi proyek. Dan kali ini dapat kesempatan untuk ikut pemasangan Pier Head mulai dari awal, yg mana mereka juga datangin tenaga ahli dr luar negeri lho. Trz suasana kantor yg begitu bersahabat,yg berisikan orang2 sedikit gila. Serta para pekerja lapangan yg begitu asik diajak bercengkrama, membuat suasana proyek ini begitu asik diikuti...

Yah,meskipun kota ini masih penuh dgn segala kesemrawutannya,tapi paling tidak kita juga bisa menikmati hidup di kota ini,asalkan tau bagaimana caranya.hehe...

Sekian dulu pemirsa, nanti di sambung ya...

Minggu, 03 Juli 2011

#2 Jakarta tuh bikin mumet..!!!

and this is a story about my 2nd day in mothercity...

Seperti biasa,pagi hari selalu sj menjadi waktu yg menyenangkan.begitupun di kota ini,udara segar dan hangatnya mentari pagi selalu menyambut insan-insan yang senantisa bertasbih kepada Allah di pagi hari...
Setelah melakukan berbagai ritual-ritual wajib di pagi hari dan sedikit santai untuk mengembalikan semangat,kamipun memulai misi di hari ini yaitu nyari tempat tinggal dan hal2 lain yg dianggap perlu.rencananya sih sebelum sore semuanya udah beres,tp malah molor ampe malam hari.bayangkan saja,cuman buat nempuh perjalanan sejarak sentral-tamalanrea,bisa sampe 3 jam.mana udaranya panas,jalannya juga mesti putar2 kesana kemari.betul2 bikin pusing,dan lagi2 saya membuktikan kedahsyatan macetnya jakarta.padahal klo mau di pikir2,ini hari libur lho...


Dengan penuh perjuangan,akhirnya bisa ketemu juga tempat tinggal yg lumayan nyaman di daerah kemang. Akres transportasi cukup mudah,kawasannya ramai, dan suasananya juga enak. Dan satu lagi,setelah bersusah2 hari ini,trnyata sy dapat kesempatan buat cobain bebek goreng+sambel korek.ini nih wuenak tenan(apalagi ada yang traktir).hehehe...

Pas malamnya,betul2 jadi waktu yg membosankan.karena gak tau jalan dan masih takut tersesat,akhirnya hanya tinggal di kamar saja. Kamipun mencoba menyibukkan diri dgn bermain hape,baca buku,atau tenggelam dalam lamunan masing2. Dan setelah bosan dgn itu semua,maka memejamkan mata menjadi pilihan terakhir. Dengan harapan semoga besok menjadi hri yang lebih baik, kamipun kemudian mencoba untuk memekarkan bunga tidur masing2...
^_^

Enough for this 2nd day,wait for my next story.hehehe...

Sabtu, 02 Juli 2011

#1 Kesan Pertama: HARUS PANDAI MENJAGA HATI

Alhamdulillah,setelah sekian lama,akhirnya ada kesempatan buat nulis lagi...
dan kali ini, saya kan bercerita tentang perjalanan saya menuju ibukota negeri ini...
hehe...

Setelah melewati berbagai ketidakpastian, akhirnya tepat 02 Juli 2011 saya mendapat kesempatan menuju ibukota Negeri ini. diawalai dengan Delay penerbangan sekitar 20 menit, akhirnya kamipun berangkat. and now,Jakarta i'm coming....
hehe....
di atas pesawar,ternyata saya dapat tempat duduk yang lumayan beruntung(entah bisa disebut beruntung ato nda ya...). soalnya tempat duduk saya berhadapan dengan tempat duduk salah satu pramugarinya, dan yang duduk disitu adalah Mbak Mey, pramugari ter-manis yang ada di pesawat itu, ini menurut saya lho. dan jadilah saya grogi setiap Mbak Mey duduk disitu, mana orangnya murah senyum lagi. ckckck....

dan dengan melewati berbagai macam cobaan diatas pesawat(hehehe....), akhirnya pesawat sukses mendarat dan jemputan juga sudah menunggu, kamipun bergegas menuju tempat nginap sementara di daerah Pasar Minggu. dan berhubung kami tiba pas malam minggu, kamipun terjebak macet ditengah orang-orang yang sibuk menghabiskan malam. disepanjang jalan, sayapun sibuk lirik kiri kanan, memperhatikan keadaan kota yang begitu ramai di waktu yang tidak biasa ini(kalo menurut saya sih,jam segini emang nda biasa liat keramaian seperti ini..)...
sesampainya di tujuan, muatan pun kami bongkar,dan segera bergegas untuk beristirahat. dan satu hal yang kemudian bisa saya simpulkan sesampainya di kota ini, ternyata ada beberapa hal yang harus siapa saya hadapi. yang pertama tentu saja MACET yang begitu terkenal di seantero Nusantara. bayangkan saja,udah jam 1 malam tapi macetnya masih lebih hebat dari keadaan Tello di sore hari kalo di Makassar,hehehe....
dan yang kedua, ternyata kita harus pandai2 menjaga HATI. kota ini ternyata dipenuhi dengan cewek2 yang menurut orang2 awam, bisa dibilang cantik. mata saya sudah membuktikannya kok disepanjang perjalanan tadi, apalagi pas melewati daeraah Kemang, yang katanya tempat GAULnya anak2 Jakarta...
Yah, semoga saja Allah membantu saya Menjaga Hati, meluruskan niat dan menjaga diri hamba yang lemah ini....
mungkin itu saja untuk hari ini, nanti ceritanya dibagi lagi ya....
^_^