Senin, 11 Juli 2011

CUKUPLAH MENJADI SEPERTI HUJAN...

Akhirnya Hujan pun berhenti,setelah mengguyur kota ini satu jam lebih. Dan bagiku itu lebih dari cukup untuk menikmati Hujan hari ini...
dan WOW...
Sinar mentari langsung menyeruak di balik awan,bagai lampu sorot yang langsung diarahkan ke Bumi ini. Menyapu keseluruhan tempat ini,membuat suasana begitu hangat dan menyenangkan. Air di dalam kolam ikan memantulkan sinar mentari,begitu pula air yang masih betah berada di atas daun yang menghijau di sekitar kolam,tampak berkilau diterpa cahaya sang mentari. Menghadirkan siluet indah yang khas,ditambah lagi udara segar yang menyergap paru-paru,semua itu sungguh menyenangkan....
dan sekali lagi,Hujan memang selalu istimewa. Bahkan setelah ia pergi...

Meskipun Hujan telah berlalu,tapi pikiranku sebenarnya masih seperti ketika Hujan masih ada sore ini. Bahkan kali ini semakin runyam,pikiranku seakan berkonspirasi dengan perasaan di dalam hati ini,seakan membangun jalan yang semakin berliku. Tak nyaman sebenarnya kalau sudah seperti ini,apalagi kemudian konspirasi tersebut mengarahkanku kepada jalan untuk mengingat hari itu...
Ya...
HARI ITU.....
46 HARI YANG LALU....
46 hari sebelum aku menulis ini...

Selalu saja seperti ini,bahkan ketika aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan hatiku,membuat pilihan yang ku anggap rasional,setelah sebelumnya masih terjebak dengan perasaan tak menenntu setelah hari itu. Tapi sayangnya,Hujan sudah terlalu sering membawaku ke keadaan seperti ini,dan mungkin itu lagi alasan mengapa Hujan begitu istimewa..
(meskipun keistimewaan kali ini adalah hal yang kurang mengenakkan,hehe...)

Tapi akhir-akhir ini aku sering belajar dari Hujan....
Belajar dari sifatnya yang begitu mengagumkan...
Belajar dari keikhlasannya membantu siapa saja dan apa saja,tanpa pernah memilih-milih...
Belajar dari ketulusannya yang ada bagi yang membutuhkan,meskipun tak selalu ada tetapi tetap dinantikan...
Belajar dari kekuatannya yang selalu amanah menjaga titah Sang Pencipta,meskipun selalu berputar dari langit ke bumi,dan kemudian kembali ke langit...
Dan itulah yang membuat penghuni bumi ini menyukainya dan menantikan kedatangannya...
dan kita juga masih bisa belajar darinya,sebab dia selalu saja menyisakan keindahan dan kesenangan di bumi ini. Meskipun itu dia tinggalkan setelah ia pergi,menyelesaikan amanah dari sang pencipta untuk saat itu....

Sungguh,ku ingin menjadi seperti Hujan...
Seperti Hujan Kepada Sang Bumi...
Hujan yang selalu ikhlas turun membasahi bumi,tanpa penah mengharap imbalan apapun...
Hujan yang selalu berusaha membawa nafas kehidupan di bumi ini,meskipun terkadang alpa beberapa lama...
Hujan yang selalu amanah berada di posisinya,tanpa pernah berharap untuk tinggal di Bumi ini seperti Tanah dan Bebatuan itu...
Dan biarlah aku menjadi Hujan,yang ketika tiba masanya untuk pergi,tetap menyisakan keindahan di bumi ini...
Sebab sebagai Hujan aku yakin,ketika datang masanya aku berhenti,maka akan ada manusia yang meneruskan kewajibanku kepada Sang Bumi. Entah siapa manusia itu,tapi Semoga di meneruskan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya...
Dan Sang Bumi tak perlu khawatir,sebab Hujan kan selalu menyapannya. Mengawasi manusia itu menjalankan kewajibannya,bahkan siap marah kepada manusia itu ketika dia lalai. Dan tak usahlah kau tanyakan kemarahan Hujan,bukankah umat-umat terdahulu telah membuktikannya...

Sulit memang untuk jadi seperti itu,tapi biarlah...
Agar tak sering terbawa ke perasaan ini lagi,biarlah aku mencoba...

Biarlah Aku menjadi Hujan...
dan Semoga Dia kan tetap menjadi Sang Bumi...
SANG BUMI YANG DICINTAI OLEH HUJAN...

cukuplah seperti itu...........

1 komentar:

  1. saat sang Hujan pergi, maka Bumi akan kering tak bernyawa.. Bumi dan hujan tak perlu dipisah oleh sesuatu yg hanya anda yg dapat mengerti

    BalasHapus