Hari ini masih ngantuk sebenarnya,tapi karena sudah ada janjian dengan teman,maka jadilah pagi ini saya berangkat Menuju Stasiun Pasar Minggu. Menggunakan angkot S11,bersama si inal sayapun menyusuri jalanan kota Jakarta yang begitu lengang pagi ini,apalagi hari ini memang akhir pekan. Maka perjalanan kamipun lancar,tidak seperti biasanya yang selalu saja terkena macet dan penuh dengan polusi.
Sebenarnya sih nda lancar-lancar amat,karena kebetulan lewat pasar minggu,yah namanya juga pasar,pasti padat lah. Dan ternyata pasar di kota ini sama saja ya dengan di Makassar,tetap saja semrawut,kotor,dan bagaimanalah yang semestinya kalian bayangkan. Kira-kira seperti itulah,dan disana sinipun terlihat orang-orang dengan berbagai macam profesinya saling berlomba-lomba mnecari nafkah. Meskipun masoh terlalu pagi menurut saya,tapi salut juga dengan kegigihan orang-orang ini. dan tak berapa lama kemudian,sampailah kami di Stasiun Kereta tujuan.
Stasiun Kereta Pasar Minggu secara umum terlihat biasa-biasa saja,bahkan terkesan tidak begitu terawat. Bangunan yang tampak sudah terlalu tua,karat yang menggerogoti dimana-mana,ditambah lagi tembok-tembok yang mulai mengelupas catnya. Tak mempedulikan itu semua,kami bergegas membeli tiket dan menuju pinggiran rel,menunggu kerete yang akan mengangkut kami ke kota Bogor. Kali ini kami naik kereta ekonomi,kereta yang mungkin bagi sebagian orang tak menyukainya,termasuk si inal sebenarnya. Memang terkesan tidak nyaman,tapi saya justru menyenangi kereta ini,sebab saya merasa dapat mengambil banyak pelajaran dari campur baur masyarakat diatas kereta seperti ini.
Sambil menunggu kereta,saya kemudian memperhatikan sekeliling. Masih belum terlalu ramai memang,sebab saat itu belum pukul 7. Suasana stasiun yang belum terlalu ramai,malah membuat saya merasa nyaman,entahlah kenapa,hanya nyaman saja. Hawa dingin pagi hari memang sedikit mengganggu,tetapi cahaya mentari yang perlahan menerobos melewati rimbunan pohon bambu,sedikit demi sedikit mengusir dingin dan menambah kesan romantis di stasiun ini. Suasana yang begitu tenang,udara yang begitu segar,ditambah lagi lantunan lagu-lagu berirama lembut dari speaker di sekitar stasiun,membuat suasana pagi begitu nyaman,meskipun berada di stasiun kereta,tempat yang mungkin tidak lazim untuk menikmati pagi.
Tapi kemudian ada satu hal yang menarik perhatian saya,yaitu para pencari nafkah yang tampak di sudut-sudut stasiun ini. Ada si Mbok jamu yang sedang sibuk melayani pembelinya,tampak pula seorang yang bisa terbilang kakek yang menawarkan minuman hangat kepada orang yang melintas di sekitarnya. Di sudut lain,tampak seorang ibu-ibu yang menjual sarapan,entah itu kue-kue,atau nasi bungkus,ataukah roti. Sedangkan di ujung peron,tampak bergerombol orang-orang yang kelihatannya sedang menunggu kereta yang sama dengan saya. Mereka juga tampak sedang bersiap-siap mencari nafkah,dapat terlihat dari barang bawaan mereka. Ada yang membawa keranjang anyaman yang cukup besar,yang entah apa isinya. ada pula yang membawa keranjang plastik yang ditutupi kain sarung yang sudah lusuh,serta tampak pula orang-orang yang menenteng ransel yang tampak sudah tua. Mereka semua tampak larut dengan pikiran masing-masing,"mungkin mereka sedang memikirkan barapa banyak rezeki mereka hari ini" pikirku sambil memandang mereka.
Sedikit banyak saya kemudian merasa kagum dengan mereka,orang-orang yang selalu sigap menghadapi kerasnya hidup ketika sebagian manusia masih lelap dalam tidurnya,terbuai dengan mimpi indah masing-masing. Bagi mereka,mungkin lebih senang menghadapi dunia yang kadang terasa pahit daripada menikmati mimpi manis yang hanya sesaat. Garis-garis wajah mereka tampak tegar dipahat oleh waktu,dibentuk oleh ketidakpastian hidup yang mereka hadapi setiap harinya. Sayangnya kekagumanku kemudian diganggu oleh pengumuman bahwa kereta tujuan Bogor akan segera tiba. Membuat segala yang kupikirkan menjadi buyar,dan beralih ke kereta yang segera datang. Meskipun sedikit berdesakan di atas kereta,tapi tak apalah sebab saya berdesakan bersama dengan mereka,para pejuang hidup yang senantiasa membuat saya merasa kagum akan kegigihan mereka menghadapi dunia. Dan kemudian kereta segera berangkat,menuju ke tempat baru yang saya yakin akan menambah pengalaman baru....
(Stasiun Pasar Minggu,16/07/2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar