turnamen ini namanya Danone Nations Cup,tiap tahunnya diadakan di stadion Gelora Sumantri Brojonegoro,Kuningan. Dan untuk diketahui,pemenang turnamen ini akan mewakili Indonesia bertanding di luar negeri. Pada jaman saya,yang menang itu bakal berangkat ke Paris,sedangkan sudah dua tahun belakangan ini putaran final tingkat dunia di pindahkan ke kota Madrid. Entah kenapa di pindahkan,tapi bagi saya sama saja. Sebab mereka mendapat kesempatan berkunjung ke negara yang memang menjadi kiblat sepak bola dunia,bertemu dengan beberapa pemain terkenal dunia,seperti Zinedine Zidane. Selain itu,mereka juga mendapat kesempatan bertemu dengan anak-anak dari berbagai negara,sebab turnamen ini sendiri akan diikuti sekitar 40-an negara. tentu saja apa yang bakal dirasakan disana sedikit banyak akan membuat orang-orang iri,termasuk saya..
Okelah,kita kembali ke nostalgia saya dulu ya.hehehe...
Pada awalnya saya sendiri tak menyangka bakal mendapat kesempatan ke ibukota pada waktu itu,sebab tim saya hanya menjadi juara 3 tingkat regional. Tapi Alhamdulillah,saya mendapat kesempatan bergabung dengan Tim Pemenang dan ikut bermain di putaran nasional. tentu saja saya senang,sebab ini pasti akan jadi pengalaman yang menyenangkan. Dan tepat tanggal 17 April 2003,saya akirnya menginjakkan kaki di kota Jakarta. Rombongan kami kemudian menginap di Padepokan Pencak Silat TMII,tepat bersebelahan dengan mesjid At-Tien. Dan dua hari kemudian,tibalah saya di Gelora Sumantri Brojonegoro,sebuah stadion yang cukup sederhana,tapi memiliki Rumput yang sangat bagus,bahkan lebih bagus dari tempat kami biasa berlatih di Makassar. Pertandingan berjalan lumayan seru,meskipun pada akhirnya gagal menjadi pemenang. tapi tak apalah,mungkin bukan rejeki kami semua ke luar negeri. Meskipun begitu,bagi saya stadion ini tetap memiliki kenangan tersendiri. Biarlah di tulisan saya yang lain akan saya ceritakan selengkapnya tentang turnamen ini dan kegiatan saya di Jakarta pada waktu itu...
Itu cerita saya sekitar 8 tahun yang lalu,dan akhirnya hari ini saya kembali menginjakkan kaki di tempat yang sama, Stadion Gelora Sumantri Brojonegoro. Ternyata stadion ini tidak terlalu banyak berubah,bahkan menurut saya tak ada bedanya dengan pertama kali saya kesini. Arena panjat dinding masih tetap berdiri kokoh di sekitaran halaman stadion,begitu pula gerbang masuk yang tetap terkesan sederhana dengan tulisan berwarna perak,dengan dinding stadion yang masih tetap berwarna biru. Dan begitu pula ketika menyisiri tangga naik ke atas tribun,kemudian duduk di tempat yang sama dengan 8 tahun sebelumnya. Memandang sekeliling,suasana sekitar stadion masih tetap sama. Berlatarkan kompleks apartemen yang berdiri kokoh di sekitaran stadion,tribun penonton masih tampak terawat dengan baik,begitu pula pagar pembatasnya. Bahkan suasana tribun di sekitar saya tidak terlalu jauh berbeda dengan 8 tahun lalu,masih tetap riuh dengan suara ibu-ibu yang sibuk berteriak mendukung anak masing-masing,bapak-bapak yang mengambil gambar dengan kamera masing-masing,pedagang asongan yang berlalu-lalang menjajakan makan dan minum,serta barisan suporter masing-masing tim yang semakin menambah riuh suasana. Di sudut lain stadion,tampak pula tim peserta yang sedang berisitirahat menunggu giliran bertanding,ada yang sekedar duduk-duduk sambil bercengkrama dengan orang di sekitarnya,sampai ada pula yang tidur sambil bertelanjang dada,persis dengan apa yang dilakukan pada jaman saya dulu,membuat saya sedikit merekahkan senyum.
Kalopun ada yang sedikit berbeda,mungkin kondisi lapangan yang tidak sebaik saya dulu,karena sudah mulai tampak gundul di beberapa titik. Selain itu,suasana kompetisi juga lebih meriah,mungkin karena sudah bertahun-tahun di adakan jadi tentu saja ada peningkatan. Dan tentu saja yang paling berbeda,karena saat ini saya datang hanya sebagai penonton,yang berada di tribun dan memandang ke arah lapangan,tanpa ada yang memeperhatikan keberadaan saya di tempat ini. Bukan lagi sebagai peserta,yang berada di lapangan dan memandang ke arah tribun,sambil berharap ada yang memperhatikan aksi-aksi saya di lapangan.hehehe...
Hari ini sayapun menikmati pertandingan,apalagi ada wakil dari Makassar,maka otomatis saya ikut mendukung mereka,bergabung di barisan suporter. Meskipun kemudian banyak yang meirik ke saya dengan mimik bingung,mungkin berpikir "ini siapa ya,kok ikut disini??.ada yang kenal tidak??". Meskipun begitu,saya tetap semangat memberi dukungan,berteriak sekali-sekali,serta berekspresi apapun. Dan akhirnya Wakil Makassar ini menjadi pemenang,mewakili Indonesia di tingkat dunia. Saya sih sebenarnya tidak kaget,karena wakil Makassar memang sudah sering menang,bahkan ini sudah yang ke-4 kalo tidak salah. Bangga juga dengan mereka,sekaligus cemburu. Bangga karena mereka mengharumkan nama daerah,sekaligus cemburu karena seharusnya waktu itu saya juga bisa seperti ini. dan sayapun hanya bisa menghela napas mengingat momen 8 tahun silam...
Setelah prosesi penerimaan hadiah,sayapun bergegas meninggalkan tempat ini,dengan diliputi berbagai macam pemikiran yang mulai berputar di kepala. Sebuah Nostalgia yang cukup membekas....
Oh iya,ini beberapa foto-foto dari tenpat itu. Termasuk foto anak-anak yang bakal berangkat menuju Madrid...
(JAKARTA,18/07/2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar